Jumat, 03 Desember 2010

Bangga menjadi Tuhan, Mulia sebagai Hamba

“Ya Allah, cukup rasanya jika Engkau menjadi Tuhan saya, cukup sudah rasa mulia bila saya sebagai abdiMu yang setia”

Berjuta-juta dan berlaksa-laksa anugerahNya telah diterima oleh umat manusia. Tiada kekuatan dan kemampuan bagi mereka untuk menghitung. Akan tetapi yang paling agung di antara yang tak terhitung itu adalah anugerah mendapat hidayah mengakuiNya sebagai Tuhan yang Esa, Yang mencipta dan Yang layak disembah. Segala keindahan nikmatNya yang terlihat, semua pemberianNya yang dirasakan sama sekali tak ada arti jika semua itu tidak dibarengi dengan keimanan dan kepercayaan akan otoritas tunggalNya. Dia menyatakan dalam kitabNya:

“Dan kepada orang-orang yang kafirpun Aku berikan kesenangan sedikit (dan sementara), kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali” QS Al Baqarah:126.

Tiada kemewahan dan keindahan jika setelahnya adalah siksaan neraka, dan sebaliknya bukan lagi namanya kesengsaraan, kesedihan, dan kepahitan bila semuanya menjadi harga untuk membeli keluasan dan kemewahan surga. Dari sinilah rasa bangga dan bahagia segera menebarkan harum wanginya ketika menyadari tanaman bunga keimanan telah tertanam dalam sanubari. Rasa putus asa, merasa hina dan rendah segera akan sirna kendati diri sedang berada dalam dasar sumur kemiskinan, kekalahan dan kerendahan derajat dalam percaturan hidup di antara makhluk. Ingatlah salah satu firmanNya:

“Janganlah bersikap lemah dan jangan (pula) bersedih hati padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya) jika kamu orang-orang yang beriman” QS Ali Imran: 139.


Seorang bawahan yang baik tentu akan menurut dan menghormati nasehat–nasehat atasannya. Seseorang yang mengaku sebagai pelayan setia sangat tidak dipercaya jika ia tidak memberikan pelayanan dan servis memuaskan kepada sang majikan. Manusia yang mengaku bangga bertuhan Allah juga demikian, dia harus mewujudkan pengakuan dan rasa bangganya itu dengan tindakan menjauhi semua larangan–larangan Allah, pohon kebanggaannya itu harus ia rawat dengan baik hingga banyak membuahkan nilai-nilai peribadatan kepadaNya. Bukan malah sebaliknya, pengakuan bangga menuhankan Allah diikuti oleh tiada rasa malu kala melakukan sesuatu yang tabu (baca:kemaksiatan), tak ada beban dan merasa bersalah bila enggan atau ogah-ogahan menjalankan anjuran beribadah.

Realita yang ada ialah anugerah Allah yang terus menerus dan setiap saat dinikmati tetapi tidak disadari, ibadah kepadaNya yang tak pernah luput dari hitungan serta kemaksiatan bagai deras hujan yang luput dari pengawasan dan kontrol pengendalian. Maha benar Allah dalam firmanNya, sebuah hadits Qudsi:

“Wahai anak Adam, kamu tidak berbuat adil kepadaKu. Aku berusaha mendapatkan cintamu dengan memberikan banyak sekali nikmat,sementara kamu perlihatkan kebencianmu kepadaKu dengan berbagai maksiat. KebaikanKu senantiasa turun kepadamu dan keburukanmu selalu naik kepadaKu” (Disebut oleh Imam Mawardi dalam kitabnya Adab Dun’ya Wad Diin dan Syekh Abdul Qadir dalam Al Fathur Rabbaani).

Perasaan bangga dan mulia ini dapat kita teladani dari seorang tokoh yang hidup pada empat belas abad silam, di mana dalam salah satu munajatnya di tengah malam selalu tak terlupakan sebuah ungkapan “Ya Allah, cukup rasanya jika Engkau menjadi Tuhan saya, cukup sudah rasa mulia bila saya sebagai abdiMu yang setia” tokoh tersebut adalah sepupuh sekaligus menantu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, mertua Umar dari putrinya yang bernama Ummu Kultsum yang dinikah oleh Umar saat masih gadis belia, ayah Al Hasan dan Al Husen serta penghulu para orang yang mengedepankan asketisme (kezuhudan) dalam dunia kehidupan, dialah Ali bin Abu Thalib radhiyallahu anhu panglima pasukan islam kala menaklukkan Yahudi tanah Khaibar.[]

Takwinur Rijal

Tulisan ini disampaikan pada pembinaan Kepala Sekolah dan Direktur LPI, 6 September 2003 di Yayasan Al Haromain.

Kebingungan sistem pendidikan nasional telah melahirkan ketidakmapanan output pendidikan baik di jenjang terendah hingga jenjang tertinggi. Generasi yang dihasilkan tidak memiliki kematangan dan kemandirian. Bahkan generasi tersebut sangat lemah baik secara akhlaq, akal, kepribadian, etos kerja dan upaya pembaharuan (ijtihad). Karena itu sosok generasi yang muncul adalah generasi bandel, demoralisasi, korupsi, penipu, manipulasi, konsumtif, materialis dan tidak memilki kemandirian. Hal ini sangat berbeda dengan genersai yang dididik mengikuti tahaban dan metode tarbiyah Islam.

Sosok generasi yang dihasilkan tahabapn dan metode tarbiyah Islam adalah generasi yang kuat dan amanat (al qowiyyul amin). Sosok generasi ini pernah terbentuk di zaman Rosululloh Sholallah Alaihi Wassalam dan para sahabatnya. Mereka sangat kuat dalam mengemban tugas-tugas agama, berdakwah beramar ma’ruf dan bernahi munkar. Generasi yang kuat termasuk di dalamnya adalah tahan bantingan menghadapi ujian kehidupan, dan tidak mudah putus asa. Generasi amanah adalah yang dapat dipercaya baik sikap, ucapan, maupun suluknya. Bila mereka menerima tugas dakwah, tugas itu akan dilaksanakan sampai sempurna dengan penuh tanggung jawab.

Amanah sebagai bagian asas pendidikan Islam, karena melalui proses amanah akan terbentuk generasi yang berbudi pekerti luhur, yang mampu mengemban segala beban yang dipikulnya. Amanah merupakan sikap internal yang menunjukkan intregrasi kepribadian sehingga generasi amanah menjadi pribadi utuh, penuh tanggung jawab, dan dapat mengembangkan dirinya untuk kehidupan orang lain.


Islam tidak menghendaki umatnya menjadi umat yang lemah. Bahkan, Al Qur’an sejak lama telah memberikan warning (peringatan) kepada kaum muslimin agar tidak meninggalkan sosok generasi yang lemah. Alloh berfirman dalam surat An Nisa’: 9
“Dan hendaklah takut kepada Alloh (cemas) orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir (terhadap kesejahteraan mereka). Oleh karena itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.”

Kuat lemahnya suatu generasi ternyata banyak ditentukan oleh faktor pendidikan. Pendidikan yang baik, yang dikelola secara benar akan mampu melahirkan generasi pilihan, generasi unggul, generasi yang cerdas secara intelektual juga generasi yang berakhlak mulia. Islam sangat memperhatikan masalah pendidikan. Islam sejak lama mewajibkan umatnya untuk giat mencari ilmu sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Ibnu Abdil Barr:

“Menuntut ilmu itu wajib hukumnya bagi setiap muslim.”
Islam adalah agama yang sempurna, yang mengatur segala sesuatu dari masalah yang paling kecil sampai masalah yang paling besar, dari masalah yang paling remeh sampai masalah yang paling berat, tidak terkecuali masalah ilmu. Alangkah indahnya pandangan Islam tentang ilmu yang dengan pandangan brilian itu mampu mencetak generasi berilmu tinggi, generasi peletak dasar-dasar ilmu modern sekarang ini.
Korelasi (hubungan) antara konsep ilmu dalam Islam dan generasi yang dihasilkan dapat diumpamakan seperti segitiga. Dua garis vertikal bertemu dalam satu titik, titik Allah SWT. Sementara garis horizontal yang menghubungkan kedua garis vertikal tadi menunjukkan generasi yang beremosi stabil, rendah hati, tidak sombong. Ibarat ilmu padi, semakin berisi semakin merunduk. Hal ini didasari oleh kesadaran bahwa amatlah terbatas ilmu Allah yang berhasil dikuasai manusia, dan teramat banyak ilmu Allah yang belum dikuasai manusia. Masih banyak hal di alam ini yang masih misterius yang belum mampu diungkap oleh keterbatasan manusia. Inilah generasi dambaan umat. Dari tipe generasi ini umat Islam akan kembali mendapatkan predikat khairu ummah dari Allah SWT.

Semua Ilmu dari Allah SWT
Ilmu pengetahuan yang dikuasai manusia semuanya dari Allah SWT, bersumber dari Dzat yang satu. Allah adalah guru manusia. Dia mengajarkan apa saja yang tidak diketahui manusia. Allah berfirman dalam surat Al Baqarah: 31

“Dan Dia (Allah) mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman, “Sebutkankah kepada-Ku nama-nama benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!”

Dari ayat ini, semestinya harus mulai dihilangkan paradigma yang membagi ilmu menjadi dua dikotomi, yaitu ilmu umum dan ilmu agama. Pembagian itu mengesankan bahwa ilmu umum itu tidak bernilai relegi/agama. Padahal, semua ilmu itu diajarkan oleh Allah. Semestinya segala yang dikuasai manusia akhirnya harus sampai pada kesimpulan bahwa Allah berada di balik semua ilmu. Bukankah ilmu itu awalnya dari sebuah pengamatan terhadap gejala-gejala alam/ayat-ayat kauniyah/sunnatullah. Dari situ manusia mulai memformulasikan teori-teori yang akhirnya terdokumentasi menjadi ilmu pengetahuan. Jadi, tidak ada ilmu yang bebas dari nilai-nilai ketuhanan/keagamaan.

Setiap muslim harus berupaya sekuat tenaga untuk menyerap ilmu sebanyak-banyak dengan segala jenisnya tanpa terpengaruh adanya dua dikotomi di atas. Generasi Islam di abad pertengahan tercatat dalam sejarah sebagai peletak dasar segala ilmu modern sekarang ini. Kita harus mencontoh jejak-jejak emas mereka. Penemuan mereka terbukti telah mendatangkan banyak kemaslahatan umat sekarang ini. Bukankah ini sebagai amal jariahnya yang pahalanya tidak terputus?

Islam menyebut tiga ilmu pokok yang harus dikuasi manusia/umat Islam, yaitu ayatul muhkamat (ilmu Al Qur’an), sunnah rasul (ilmu hadits), dan faroidl (ilmu waris). Selain ketiga ilmu itu, maka termasuk kelebihan (fadhlun). Banyak sekali ilmu-ilmu yang termasuk kelebihan tersebut. Dalam kaitan ini, umat Islam harus selektif dalam mempelajarinya sebab ilmu-ilmu kelebihan tersebut bisa mengantarkan manusia ke arah kebaikan, juga bisa mengantarkan manusia ke arah kejahatan, orang menyebutnya sebagai ilmu hitam, ilmu yang dapat mencelakakan orang lain dan dirinya sendiri.
Pengajaran ilmu pokok tersebut sebaiknya dimulai dari usia dini dalam pendidikan prasekolah (PG/TK). Lalu dilanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Menurut penelitian ditemukan bahwa perkembangan otak manusia itu 80 % terjadi dalam usia 0 – 8 tahun, sedang yang 20 % berkembang di atas usia tersebut Semakin dini mengenalkan tiga ilmu pokok tersebut akan menghasil kualitas lulusan yang lebih baik.

Bacalah ilmu dengan bismillah
Allah berfirman dalam surat Al Alaq:1

“Bacalah dengan menyebut asma tuhanmu yang menciptakan!”


Dalam membaca ayat-ayat qouliyah maupun ayat-ayat kauniyah jangan sampai lupa menyebut nama Allah SWT. Apapun yang kita baca hendaknya selalu menghadirkan Allah di dalamnya. Allah yang berfirman dalam ayat-ayat qouliyah, juga Allah yang menciptakan ayat-ayat kauniyah. Membaca bismillah berarti mengharapkan bantuan Allah untuk memahami bahan bacaan. Membaca bismillah berarti membuka tabir keberkahan ilmu pengetahuan. Membaca bismillah seolah-olah kita minta izin pada Allah sebagai pemilik segala ilmu pengetahuan. Dengan bismillah akan mengantarkan manusia ke puncak pengetahuan tentang Allah.

Memasuki konsep ini harus menjadikan keterikatan pada pencipta ilmu. Ketika berada dalam ilmu yang dapat dikembangkan melalui metodologi penelitian, maka harus tetap mengembalikan kekuasaan tertinggi pada Allah Ta’ala. Dan di setiap mengembangkan ilmu harus dilandasi dengan penyebutan kekuasaan Allah Ta’ala. Akhirnya ilmu yang digeluti akan menghantarkan kepada kesempurnaan keimanan seseorang.