Jumat, 30 Mei 2014

Madza fi Sya’ban: Sya’ban, Bulan Shalawat

seri 4


sya'ban

Di antara keistimewaan bulan Sya’ban adalah ia menjadi bulan di mana diturunkan ayat Shalawat dan Salam kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Ayat itu adalah firman Allah:
          إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَاالَّذِيْنَ آمَنُـوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”QS al Ahzab:56.

Ibnus Shoef al Yamani menyebutkan bahwa bulan Sya’ban disebut Bulan Shalawat atas Nabi shallallahu alaihi wasallam karena ayat QS al Ahzab 56 turun pada bulan ini[1]. 

Imam Syihabuddin al Qosthalani mengatakan dari sebagian ulama bahwa bulan Sya’ban adalah Bulan Shalawat atas Nabi shallallahu alaihi wasallam karena ayat Shalawat (QS al Ahzab 56) turun pada bulan ini[2]. 
Al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menukil dari Abu Dzarr al Harawi bahwa perintah bershalawat atas Nabi shallallahu alaihi wasallam (maksudnya firman Allah dalam QS al Ahzab 56) terjadi pada tahun kedua hijriyyah. Ada pula yang mengatakan dalam peristiwa Isra’.


Hakikat Shalawat atas Nabi shallallahu alaihi wasallam
Allah berfirman:
          إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَاالَّذِيْنَ آمَنُـوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”QS al Ahzab:56

Allah memerintahkan seluruh kaum beriman setelah memanggil mereka dengan sebelumnya menyebutkan bahwa Allah dan malaikatNya melakukan hal tersebut. Maksudnya Dia Memerintahkan hal tersebut – bukan karena Nabi shallallahu alaihi wasallam butuh pada hal itu, tetapi karena tujuan memuliakan kalian sebab keimanan kalian kepadanya – dengan perintah yang menjadikan kalian mencocoki  dan sejalan dengan Raja Diraja Maha Mulia ta’alaa, para orang teristimewa dari para hambaNya yang shaleh yang dimuliakan bersama Nabi shallallahu alaihi wasallam yang menjadi jalan bagi kalian memperoleh petunjukNya yang dengan lisannya, Sang Nabi juga memberikan petunjuk segala hal yang bisa mendekatkan kalian di sisiNya.

Syekh Izzuddin bin Abdussalam rahimahullah berkata:
Shalawat atas Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bukanlah syafa’at kita untuk Beliau karena orang seperti kita tidaklah bisa memberi syafaat kepada orang seperti Beliau. Kendati begitu Allah ta’alaa Memerintahkan agar membalas jasa orang yang telah memberikan kebaikan kepada kita. Jika tidak bisa membalas jasanya maka kita berdo’a untuknya agar Allah Menggantikan kita dalam memberikan balas jasa. Ketika kita tidak mampu membalas jasa penghulu manusia terdahulu dan yang kemudian maka Tuhan semesta alam Memerintahkan agar kita bershalawat atasnya supaya shalawat itu sebagai balas jasa atas kebaikan dan anugerahnya kepada kita dan tentu saja tak ada kebaikan lebih utama daripada kebaikan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kepada kita. 

Beliau bersabda:
          مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا
“Barang siapa bershalawat sekali atasku maka sebab itu Allah bershalawat sepuluh kali atasnya” HR Muslim.

Qadhi Iyadh berkata: [Maksudnya Allah merahmatinya dan menggandakan pahalanya sebagaimana firmanNya, “Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya “ QS al An’aam:160. ] Qadhi melanjutkan: [Atau bisa jadi shalawat Allah ini sesuai dengan zhahirnya sebagai bentuk memuliakan (orang yang membaca shalawat) di kalangan para malaikat seperti dalam hadits, “Jika ia menyebutKu dalam suatu perkumpulan maka Aku menyebutnya di perkumpulan (lain)yang lebih mulia darinya”. Hanya Allah yang lebih Mengetahui]

Dari Ubayy bin Ka’ab ra ia berkata: Aku berkata: “Wahai Rasulullah, sungguh saya memperbanyak bershalawat atas engkau. Lantas berapa dari shalawatku itu yang saya jadikan untuk engkau?” Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjawab, “Terserah kamu” aku berkata: “Seperempat?” Beliau bersabda: “Terserah kamu, bila kamu menambahnya maka itu lebih baik”  aku berkata: “Separuh?” Beliau bersabda: ““Terserah kamu, bila kamu menambahnya maka itu lebih baik” aku berkata: “Saya menjadikan seluruh shalawat saya untuk engkau” Beliau bersabda:
           …إِذًا تُكْفَى هَمَّكَ وَيُغْفَرْ لَكَ ذَنْبُكَ
“…Jika begitu maka kamu dicukupi keinginanmu dan diampuni dosamu”HR Turmudzi.

Imam Nawawi berkata: Maksud ungkapan (sungguh saya memperbanyak bershalawat atas engkau. Lantas berapa dari shalawatku itu yang saya jadikan untuk engkau?) adalah: “Saya memperbanyak berdo’a maka berapa banyak saya harus bershalawat  atas engkau dalam do’a saya?”

Abu Laits As Samarkand rahimahullah berkata:
[Andai dalam bershalawat atas Nabi shallallahu alaihi wasallam tidak ada pahala sama sekali kecuali mengharapkan Syafa’at maka wajib bagi orang berakal untuk tidak melupakannya. Apalagi dalam bershalawat ada ampunan dosa – dosa, ada shalawat dari Allah],  Abu Laits melanjutkan: [Jika ingin mengetahui bahwa bershalawat atas Nabi shallallahu alaihi wasallam adalah ibadah yang paling utama maka renungkanlah firman Allah, “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”QS al Ahzab:56. Seluruh ibadah telah Allah perintahkan kepada para hambaNya. Sementara shalawat atas Nabi shallallahu alaihi wasallam maka sungguh diriNya telah bershalawat dan kemudian Memerintahkan orang beriman agar mereka bershalawat atasnya. Ini menetapkan bahwa Shalawat atas Nabi shallallahu alaihi wasallam adalah ibadah yang paling utama]

Imam Nawawi berkata: [Jika seseorang bershalawat kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam maka hendaknya menggabungkannya dengan ucapan salam (Taslim) dan tidak hanya menyebutkan salah satunya] Imam al Ghazali menceritakan: [Pernah aku menulis sebuah hadits dan sekaligus bershalawat atas Nabi shallallahu alaihi wasallam, tetapi tidak mengucapkan salam. Maka aku bermimpi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan Beliau bersabda kepadaku, “Kenapa tidak kamu sempurnakan bershalawat atasku dalam kitabmu?” maka mulai setelah itu tidak kutulis shalawat kecuali menyertakan salam]

Imam Nawawi berkata: [Disunnahkan bagi pembaca hadits atau lainnya yang semakna, jika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam disebut agar mengeraskan suara bacaan shalawat dan salam atas Beliau  dan jangan sampai mengeraskan dengan suara yang terlalu keras sehingga terkesan jelek. Di antara tokoh yang menyatakan dan menganjurkan mengeraskan suara ini adalah al Imam al A’zham al Hafizh Abu Bakar al Khathib al Baghdadi serta juga para tokoh ulama yang lain]

Abu Bayan al Ashfihani berkata:
Aku bermimpi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan bertanya kepada Beliau: “Kenapa engkau tidak memberikan manfaat kepada anak pamanmu As Syafi’i dengan sesuatu atau mengistimewakannya dengan sesuatu?” Beliau bersabda: “Ia, aku memohon kepada Tuhanku agar tidak menghisabnya” aku bertanya: “Sebab apa?” Beliau bersbda: “Sebab ia telah bershalawat kepadaku dengan shalawat yang belum pernah aku mendapat shalawat seperti itu” aku bertanya: “Apakah itu?” Beliau bersabda: “Ia (Syafii) mengucapkan:
          أَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ كُلَّمَا ذَكَرَهُ الذَّاكِرُوْنَ وَغَفَلَ عَنْ ذِكْرِهِ الْغَافِلُوْنَ
“Ya Allah berikanlah shalawat kepada Muhammad selama orang – orang yang ingat menyebutnya dan selama orang – orang yang lupa lalai dari menyebutnya”

Ibnu Abdul Hakam berkata:
Dalam mimpi aku melihat Syafi’i dan bertanya: “Apakah yang dilakukan Allah kepadamu?” ia menjawab: “Dia Memberiku nikmat dan Mengampunikun dan dan aku diarak di surga layaknya pengantin diarak serta ditaburkan atasku seperti halnya ditaburkan atas pengantin” aku (Ibnu Abdil Hakam) bertanya: “Dengan apakah kamu menggapai derajat ini?” ia menjawab: “Sebab ucapanku dalam kitab Ar Risalah;
          وَصَلَّى الله عَلَى مُحَمَّدٍ عَدَدَمَا ذَكَرَهُ الذَّاكِرُوْنَ وَعَدَدَ مَا غَفَلَ عَنْ ذِكْرِهِ الْغَافِلُوْنَ
“Dan semoga Allah bershalawat atas Muhammad sesuai bilangan orang pengingatan orang – orang yang ingat dan sesuai bilangan kelalaian orang – orang yang lupa mengingatnya”[3]

Bersambung.

sumber: http://www.shofwatuna.org/2014/05/madza-fi-syaban-syaban-bulan-shalawat/

Catatan kaki:
[1] Tuhfatul Ikhwan lil Imam Ahmad bin Hijazi al Fasyni hal 74
[2] Syarah Az Zarqani ala al Mawahib 7/328
[3] Dari kitab Nuzhatun Nazhirin fil Akhbar al Marwiyyah an al Anbiya’ was Shalihin ­29 – 30

Madza fi Sya’ban: Penentuan Umur dan Puasa di Dalamnya

seri 3

bulansyaban

Penentuan Umur
Pada bulan Sya’ban, umur ditentukan. Maksudnya penentuan ini ditampakkan dan diperjelaskan, sebab jika tidak demikian maka (itu salah. Pent. ) karena sesungguhnya pekerjaan – pekerjaan Allah tidak terbatas oleh masa dan tempat. “Tidak ada sesuatu pun yang serupa denganNya. Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat” QS As Syura: 11.  

Dalam hadits riwayat Aisyah ra sesunggunya Nabi shallallahu alaihi wasallam berpuasa dalam seluruh Sya’ban.  Aisyah ra berkata: Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, bulan yang paling engkau sukai untuk berpuasa adalah bulan Sya’ban?” Beliau bersabda:
           إِنَّ اللهَ يَكْتُبُ فِيْهِ عَلَى كُلِّ نَفْسٍ مَيِّـتَةٍ تِلْكَ السَّـنَةِ فَأُحِبُّ أَنْ يَأْتِيَنِيْ أَجَلِيْ وَأَنَا صَائِمٌ
“Sesungguhnya pada bulan ini Allah Menulis setiap orang yang akan meninggal pada tahun itu. Maka aku suka jika ajalku datang dalam keadaan aku sedang berpuasa”  (HR Abu Ya’la. Hadits Gharib dengan Isnad Hasan) [1]


Karena itulah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam  memperbanyak puasa. Anas bin Malik ra berkata: [Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berpuasa dan tidak berbuka sehingga kami mengatakan: “ Tidak terbersit dalam diri Rasulullah shallallahu alaihi wasallam untuk berbuka selama setahun. Kemudian Beliau shallallahu alaihi wasallam  berbuka dan tidak berpuasa hingga kami mengatakan: “ Tidak terbersit dalam hati Rasulullah shallallahu alaihi wasallam untuk berpuasa selama setahun. Dan puasa yang paling Beliau suka adalah Sya’ban] HR Ahmad Thabarani.

Keutamaan Bepuasa di Bulan Sya‘ban
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ditanya: “Puasa apakah yang lebih utama setelah Ramadhan?” Beliau menjawab: “Sya’ban guna memuliakan Ramadhan” ditanyakan: “Sedekah apakah yang lebih utama?” Beliau menjawab: “Sedekah dalam Ramadhan” (Imam Turmudzi berkata: Hadits Gharib)

Bahkan Aisyah ra berkata:
[Rasulullah shallallahu alaihi wasallam selalu berpuasa hingga kami mengatakan: “Beliau tidak pernah berbuka”, dan Beliau selalu berbuka hingga kami mengatakan, “Beliau tidak pernah berpuasa”, dan aku tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berpuasa sebulan penuh kecuali Ramadhan, dan aku tidak menyaksikan Beliau berpuasa di suatu bulan lebih banyak daripada di bulan Sya’ban, Beliau selalu berpuasa kecuali sedikit atau bahkan seluruhnya]

Dalam riwayat Abu Dawud disebutkan, Aisyah ra berkata:
          كَانَ أَحَبُّ الشُّهُوْرِ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَصُوْمَهُ شَعْبَانَ ثُمَّ يَصِلُهُ بِرَمَضَانَ
“Bulan yang paling disukai Rasulullah shallallahu alaihi wasallam untuk berpuasa adalah Sya’ban. Selanjutnya Beliau menyambungnya dengan Ramadhan”

Dalam riwayat An Nasa’i disebutkan, Aisyah ra berkata:
            لَمْ يَكُنْ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِشَهْرٍ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ لِشَعْبَانَ , كَانَ يَصُوْمُهُ أَوْ عَامَّتَهُ
“Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak pernah banyak berpuasa dalam suatu bulan lebih banyak daripada di bulan Sya’ban. Beliau selalu berpuasa atau dalam kebanyakan bulan (sya’ban)”

Dalam riwayat Imam Bukhari dan Muslim, Aisyah ra berkata:
          لَمْ يَكُنِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُوْمُ شَهْرًا أَكْثَرَ مِنْ شَعْبَانَ فَإِنَّهُ كَانَ يَصُوْمُ شَعْبَانَ كُلَّهُ وَكَانَ يَقُوْلُ : ” خُـذُوْا مِنَ الْعَمَلِ مَا تُطِيْقُوْنَهُ فَإِنَّ اللهَ لاَ يَمَلُّ حَتَّي تَمَلُّوْا , وَكَانَ أَحَبُّ الصَّلاَةِ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا دُوْوِمَ عَلَيْهِ وَإِنْ قَلَّتْ وَكَانَ إِذَا صَلَّى صَلاَةً دَاوَمَ عَلَيْهَا
“Nabi shallallahu alaihi wasallam tidak pernah berpuasa dalam satu bulan lebih banyak daripada di bulan Sya‘ban. Sungguh Beliau puasa dalam seluruh Sya’ban dan Beliau bersabda, “Ambil –lah amal yang kalian kuat (mampu) karena sesungguhnya Allah tidak bosan sehingga kalian bosan” dan adalah shalat yang paling disukai oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam adalah yang dilanggengkan meski sedikit. Jika telah melakukan suatu shalat maka Beliau melanggengkannya”

Lebih Detail tentang Puasa Sya’ban
Dari Aisyah ra. Ia berkata: [Nabi shallallahu alaihi wasallam tidak pernah berpuasa dalam sebulan lebih banyak daripada di bulan Sya’ban. Sungguh Beliau berpuasa dalam seluruh Sya’ban] (HR Bukhari). Dalam riwayat Imam Muslim. Aisyah ra berkata: [Beliau shallallahu alaihi wasallam selalu berpuasa sehingga kami mengatakan, ”Sungguh Beliau telah berpuasa”. Dan Beliau selalu berpuasa sehingga kami mengatakan, “Sungguh Beliau telah berbuka”] 

Aisyah melanjuutkan: [Dan aku tidak pernah sekalipun menyaksikan Beliau berpuasa lebih banyak daripada puasanya di bulan Sya’ban. Beliau berpuasa dalam seluruh Sya’ban, Beliau berpuasa dalam Sya’ban kecuali sedikit]. Dalam riwayat Nasai dan Turmudzi: [Beliau berpuasa Sya’ban kecuali sedikit atau bahkan puasa dalam Sya’ban seluruhnya].

Syekh Mulla Ali al Qaari berkata:
[Beliau berpuasa Sya’ban seluruhnya] maksudnya hari dalam Sya’ban di mana Beliau tidak berpuasa sangatlah sedikit sehingga ada persangkaan Beliau berpuasa dalam seluruh Sya’ban. Jadi kata bahkan (Bal. Arab) adalah berfaedah menaikkan (Taraqqii) dan bukan menafikan ungkapan Aisyah ra kecuali sedikit.  Dan juga tidak menafikan hadits yang menyatakan bahwa sejak datang di Madinah sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wasallam tidak berpuasa sebulan sempurna kecuali di bulan Ramadhan. Kata seluruhnya juga bisa diartikan apa adanya. Yakni Beliau shallallahu alaihi wasallam berpuasa dalam seluruh Sya’ban sebelum datang di Madinah yang ini berarti kata bahkan berfaedah membantah ungkapan Aisyah ra kecuali sedikit. Hikmah dari ini adalah bisa jadi ungkapan kecuali sedikit  disangka bahwa sedikit tersebut adalah sepertiga bulan hingga Aisyah ra lalu menjelaskannya dengan bahasa seluruhnya bahwa sangat sedikit sekali sehingga bisa disangka Beliau shallallahu alaihi wasallam berpuasa seluruh Sya’ban.]

Dalam riwayat Bukhari Muslim dari Aisyah ra:
مَارَأَيْـتُهُ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ قَطُّ إِلاَّ شَهْرَ رَمَضَانَ وَمَا رَأَيْـتُهُ فِى شَهْرٍ أَكْثَرَ مِنْهُ صِيَامًا فِى شَعْبَانَ
“Aku tidak pernah menyaksikan Beliau menyempurnakan puasa sebulan kecuali bulan Ramadhan dan aku tidak melihat  Beliau lebih banyak berpuasa dalam suatu bulan daripada di bulan Sya’ban”

Dalam riwayat lain yang juga bersumber dari Aisyah ra:
           لَمْ يَكُنْ يَصُوْمُ شَهْرًا أَكْثَرَ مِنْ شَعْبَانَ فَإِنَّهُ كَانَ يَصُوْمُ كُلُّهُ
“Beliau tidak pernah berpuasa dalam sebuah bulan lebih banyak daripada Sya’ban. Sungguh Beliau berpuasa dalam seluruh Sya’ban”

Dalam riwayat Imam Abu Dawud:
          وَكَانَ أَحَبُّ الشُّهُـوْرِ إِلَيْهِ أَنْ يَصُوْمَ شَعْبَانَ ثُمَّ يَصِلُهُ بِرَمَضَانَ
“Dan bulan yang paling disukai oleh Beliau untuk berpuasa adalah Sya’ban kemudian menyambungnya dengan Ramadhan”

Dalam riwayat Imam Nasa’i:
          كَانَ يَصُوْمُ شَعْبَانَ أَوْ عَامَّةَ شَعْبَانَ
“Beliau berpuasa Sya’ban atau kebanyakan Sya’ban”
          كَانَ يَصُوْمُ شَعْبَانَ كُلَّهُ
“Beliau berpuasa Sya’ban seluruhnya”

Hadits – hadits tersebut secara zhahir menunjukkan bahwa puasa Sya’ban lebih utama dibanding puasa Rajab dan bulan – bulan mulia lain (Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah, Muharram), akan tetapi ini terbantah oleh hadits dari Abu Hurairah ra. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
          أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ صَوْمُ شَهْرِ اللهِ الْمُحَرَّمِ
“Puasa yang lebih utama setelah ramadhan adalah puasa bulan Allah Muharram”HR Muslim.

Bantahan inipun terjawab lagi dengan:

A. Kemungkinan Beliau shallallahu alaihi wasallam belum mengetahui keutamaan puasa Muharram kecuali pada saat akhir kehidupan Beliau sebelum bisa melakukannya. Atau karena ada udzur berupa bepergian atau sakit yang menjadikan terhalang dari memperbanyak berpuasa seperti dikatakan oleh Imam Nawawi.

       Mairak Berkata: Dua hal ini (dua kemungkinan ini) sangat jauh.
  1. Hadits Aisyah ra: “Adalah Beliau shallallahu alaihi wasallam berpuasa tiga hari dari setiap bulan, tetapi terkadang Beliau mengakhirkannya sehingga terkumpul atas Beliau puasa setahun lalu Beliau berpuasa di bulan Sya’ban” HR Thabarani.  
  2. Nabi shallallahu alaihi wasallam mengistimewakan Sya’ban dengan berpuasa sebagai bentuk pengagungan kepada Ramadhan. Jadi dalam konteks ini seperti halnya mendahulukan sunnah – sunnah rawatib sebelum shalat – shalat fardhu. Ini dikuatkan dengan hadits gharib yang dalam sanadnya terdapat nama Shadaqah yang dianggap tidak kuat oleh para ahli hadits: Sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wasallam ditanya puasa apakah yang lebih utama? Maka Beliau menjawab:
شَعْبَانُ لِتَعْظِيْمِ رَمَضَانَ
“Sya’ban guna mengagungkan Ramadhan” HR Turmudzi.
Selain itu juga keberadaan puasa Sya’ban sebagai pemanasan dan media latiahan (Tamarrun) guna menuju puasa Ramadhan. Sementara larangan berpuasa dalam separuh kedua bulan Sya’ban adalah bagi orang yang sebelumnya (pada separuh pertama) tidak berpuasa, serta tidak pula memiliki kebiasaan, tidak mengqadha’ atau bernadzar dan dikhwatirkan puasa dalam separuh kedua itu akan menyebabkan lemah atau rasa malas berpuasa Ramadhan sehingga berdampak pada melakukan fardhu tanpa gairah dan semangat.

B. Hadits dari Usamah bin Zaid ra.
Aku bertanya: “Wahai Rasulullah, saya tidak pernah melihat engkau puasa dalam bulan – bulan seperti engkau berpuasa di bulan Sya’ban?” Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
          ذَاكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبَ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيْهِ اْلأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ
“Itulah bulan yang dilupakan manusia, antara Rajab dan Ramadhan. Itulah bulan dimana amal – amal diangkat (dilaporkan) kepada Tuhan semesta alam dan aku suka jika amalku diangkat dalam keadaan aku sedang berpuasa” (HR Nasai Abu Dawud. Dishahihkan oleh Imam Ibnu Huzaimah)

Sepadan dengan hadits riwayat Aisyah ra. Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:
إِنَّ اللهَ يَكْتُبُ كُلَّ نَفْسٍ مَيِّـتَةٍ تِلْكَ السَّنَةِ فَأُحِبُّ أَنْ يَأْتِيَنِي أَجَلِي وَأَنَا صَائِمٌ
“Sesungguhnya Allah menulis setiap jiwa yang meninggal pada tahun itu dan aku ingin ajalku datang saat aku sedang berpuasa”(HR Abu Ya’la)

Hadits ini memberitahukan bahwa orang – orang sebelumnya banyak berpuasa Rajab karena bagi mereka termasuk bulan – bulan mulia yang dimuliakan. Nabi shallallahu alaihi wasallam lalu mengingatkan dengan memperbanyak puasa di bulan Sya’ban agar mereka tidak melupakan bulan ini dengan tambahan faedah bahwa amal – amal diangkat dan ajal – ajal ditulis pada bulan ini. Aisyah ra bertanya: “ Wahai Rasulullah, saya melihat kebanyakan puasa anda adalah di bulan Sya’ban?” Beliau bersabda: “Sesungguhnya bulan ini, di dalamnya dituliskan untuk malaikat maut (nama) orang yang akan ia ambil (cabut nyawanya), maka aku suka agar namaku tidak ditulis kecuali saat aku sedang berpuasa”. Sangat mungkin hal inilah hikmah di balik keistimewaan Sya’ban bagi Nabi shallallahu alaihi wasallam seperti dalam sabda Beliau:
 رَجَبُ شَهْرُ اللهِ وَشَعْبَانُ شَهْرِيْ وَرَمَضَانُ شَهْرُ أُمَّتِيْ
“Rajab adalah bulan Allah, Sya’ban adalah bulanku dan Ramadhan adalah bulan umatku”(HR Dailami dan yang lain dari Anas ra)[2]

Aku mengatakan:
Hadits ini disebutkan secara Mursal oleh Imam Suyuthi dan Beliau mengatakan: (Diriwayatkan oleh Abu al Fath bin Abi al Fawaris dalam al Amaalii  dari Hasan secara Mursal dan ini ada Dhaif). Imam al Munawi berkata: [Al Hafizh Zen al Iraqi dalam Syarah At Turmudzi mengatakan: (Hadits ini sangat dha’if dan termasuk di antara Marasil  Hasan dan kami riwayatkan dalam Kitab at Targhib wa at Tarhiib milik Imam al Ashfihani. Sementara Marasil Hasan sama sekali tidak dianggap oleh para ahli hadits, dan tidak ada satupun hadits yang shahih terkait keutamaan Rajab] sementara ungkapan penyusun (Imam Suyuthi) dengan sendirinya menjadi penjelasan bahwa Beliau tidak meriwayatkan hadits ini beserta sanadnya. Jika tidak demikian tentu Beliau tidak akan beralih kepada riwayat Mursal nya dan ini sungguh mengerankan.

Imam Dailami sendiri telah men takhrij hadits ini dalam musnad al Firdaus dari tiga jalur. Juga Ibnu Nashr dan yang lain dari hadits Anas ra dengan teks lafazh yang tertulis apa adanya (seperti aslinya)[3].

Dalam Kasyful Khafa’ disebutkan tentang sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam:
شَعْبَانُ شَهْرِيْ وَرَمَضَانُ شَهْرُ اللهِ وَشَعْبَانُ الْمُطَهِّرُ وَرَمَضَانُ الْمُكَفِّرُ
“Sya’ban adalah bulanku, Ramadhan adalah bulan Allah dan Sya’ban adalah yang mensucikan sedang Ramdahon adalah yang melebur”

Diriwayatkan oleh Imam Dailami dari  As Sayyidah Aisyah secara Marfu’ (sambung kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam). Ibnu al Ghars berkata: Syaikhuna al Hijazi berkata: Hadits Dha’if.[4]

“Sya’ban adalah bulanku…” maksudnya: (Aku mensunnahkan Qiyam di dalamnya). Aku (Abuya) berkata: Mungkin penisbatan Sya’ban kepada Beliau shallallahu alaihi wasallam karena dalam bulan ini turun kepada Beliau ayat Shalawat kepada Beliau shallallahu alaihi wasallam.

Bersambung.

sumber: http://www.shofwatuna.org/2014/05/madza-fi-syaban-penentuan-umur-dan-puasa-di-dalamnya/

Catatan kaki:
[1] Demikian teks yang tertera dalam at Targhib wat Tarhib juga yang tertera dalam Musnad Abu Ya’la 8/312 dengan nomer 4911. Yang pasti, terjadi Tahrif / perubahan dalam teks hadits:
فَأُحِبُّ أَنْ يَأْتِيَنِيْ أَجَلِيْ وَأَنَا صَائِمٌ
Karena yang benar adalah:
فَأُحِبُّ أنْ يُرْفَعَ – يُكْتَبَ – عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ
“…maka aku suka jika amalku diangkat – ditulis- dalam keadaan aku sedang berpuasa”

Inilah teks yang tertera dalam berbagai riwayat shahih tentang masalah ini selain hadits ini seperti halnya sabda Beliau shallallahu alaihi wasallam:
            شَهْرٌ تٌرْفَعُ فِيْهِ اْلأَعْمَالُ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي َوأَنَا صَائِمٌ
“Bulan disitu amal – amal diangkat dan aku suka jika amalku diangkat saat aku sedang berpuasa”
Dan inilah yang sejalan dengan rentetan sabda Beliau shallallahu alaihi wasallam dan diperjelas lagi dalam riwayat al Khathib dalam at Tarikh dengan sanad sampai kepada Aisyah ra yang di dalamnya juga terdapat teks:
            ” وَأُحِبُّ أَنْ يُكْتَبَ أَجَلِي وَأَنَا فِى عِبَادَةِ رَبِّي
“…dan aku suka ajalku ditulis saat aku sedang berada dalam beribadah kepada Tuhanku”

[2] Jam’u al Wasail fi Syarh As Syamail li Syekh Ali bin Sulthan Muhammad al Qaari 2/121 -122

[3] Faidh al Qadir syarah al Jami’ as Shaghir li al Munawi 4/18

[4]Kasyf al Khafa’ wa Muzil al Ilbas li al Ajluni juz 2/ hal 9. al Hafizh Zen al Iraqi dalam Syarah Tirmidzi berkata: Ini Dha’if sekali. (Faidh alQadir 4/18) aku berkata: Inilah yang benar. Adapun penyebutan Ibnul Jauzi maka itu tidak menjadi pembenar

Madza fi Sya’ban: Laporan Amal

seri 2

bulansyaban

Laporan Amal
Di antara keistimewaan bulan Sya’ban yang sudah dikenal adalah laporan amal (Raf’ul Amal). Tepatnya laporang terbesar dan terluas. Dalam hadits dari Usamah bin Zaid ra disebutkan: Ia berkata: Aku bertanya: “Wahai Rasulullah, saya tidak pernah melihat engkau puasa dalam bulan – bulan seperti engkau berpuasa di bulan Sya’ban?” 

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
          ذَاكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبَ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيْهِ اْلأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ
“Itulah bulan yang dilupakan manusia, antara Rajab dan Ramadhan. Itulah bulan dimana amal – amal diangkat (dilaporkan) kepada Tuhan semesta alam dan aku suka jika amalku diangkat dalam keadaan aku sedang berpuasa” (HR Nasai)

Laporan di Siang Hari dan Laporan di Malam Hari
Dalam Shahih Muslim dari Abu Musa al Asy’ari ra. Ia berkata:
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berdiri di antara kami dengan lima kalimat. 

Selanjutnya Beliau bersabda:
           إِنَّ اللهَ تَعَالَى لاَ يَنَامُ وَلاَ يَنْبَغِي لَهُ أَنْ يَنَامَ يَخْفَضُ الْقِسْطَ وَيَرْفَـعُهُ يُرْفَعُ إِلَيْهِ عَمَلُ اللَّيْلِ قَبْلَ عَمَلِ النَّهَارِ وَعَمَلُ النَّهَارِ قَبْلَ عَمَلِ اللَّيْلِ حِجَابُهُ النُّوْرُ لَوْ كَشَفَهُ َلأَحْرَقَتْ سَبَحَاتُ وَجْهِهِ مَا انْتَهَى إِلَيْهِ بَصَرُهُ مِنْ خَلْقِهِ
“Sesungguhnya Allah ta’alaa tidak tidur dan tidak semestinya Dia tidur. Dia merendahkan dan meninggikan timbangan. Diangkat kepadaNya amalan malam sebelum amalan siang, dan amalan siang sebelum amalan malam. HijabNya adalah cahaya. Andai Dia Membukanya niscaya kegungan wajahNya akan membakar sejauh pandanganNya dari ciptaanNya”

Al Allamah al Munawi rahimahullah berkata:
[Maksud (laporan dalam hadits ini) adalah: Diangkat (dilaporkan) kepadaNya amalan siang pada permulaan malam setelahnya dan amalan malam pada permulaan siang setelahnya. Ini karena para malaikat penjaga (Hafazhah)  naik (ke langit) dengan membawa amalan - amalan malam  - setelah malam habis – pada permulaan siang dan mereka naik membawa amalan - amalan siang – setelah siang habis – pada permulaan malam].


Dengan uraian ini, Imam al Munawi merujuk pada hadits dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
          يَتَعَاقَبُوْنَ – يَتَـنَاوَبُوْنَ – فِيْكُمْ مَلاَئِكَةٌ بِاللَّيْلِ وَمَلاَئِكَةٌ باِلنَّهَارِ وَيَجْـتَمِعُوْنَ فِى صَلاَةِ الْفَجْرِ وَصَلاَةِ الْعَصْرِ  ثُمَّ يَعْرُجُ الَّذِيْنَ بَاتُوْا فِيْكُمْ  فَيَسْأَلُهُمْ رَبُّهُمْ _ وَهُوَ أَعْلَمُ بِهِمْ _ كَيْفَ تَرَكْـتُمْ عِبَادِيْ ؟ فَيَقُوْلُوْنَ : تَرَكْـنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّوْنَ وَآتَيْـنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّوْنَ
“Malaikat malam malaikat siang saling bergantian dalam (menjaga) diri kalian. Mereka bertemu dalam shalat fajar (subuh) dan shalat ashar. Kemudian malaikat yang menginap bersama kalian naik dan lalu ditanya oleh Tuhan mereka – Dia lebih Mengetahui daripada mereka – : “Bagaimanakah kalian meninggalkan para hambaKu?” Mereka menjawab: “Kami meninggalkan mereka saat mereka sedang shalat dan kam datang kepada mereka saat mereka sedang shalat” (HR Bukhari Muslim)

Hadits ini – seperti dikatakan oleh  al Mundzuri -  juga diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam shahihnya dengan teks dalam versi salah satu riwayat:
تَجْتَمِعُ مَلاَئِكَةُ اللَّيْلِ وَمَلاَئِكَةُ النَّهَارِ فِى صَلاَةِ الْفَجْرِ وَصَلاَةِ الْعَصْرِ فَيَجْتَمِعُوْنَ فِى صَلاَةِ الْفَجْرِ  فَتَصْعَدُ مَلاَئِكَةُ اللَّيْلِ وَتَبِـيْتُ مَلاَئِكَةُ النَّهَارِ . وَيَجْتَمِعُوْنَ فِى صَلاَةِ الْعَصْرِ فَتَصْعَدُ مَلاَئِكَةُ النَّهَارِ وَتَبِيْتُ مَلاَئِكَةُ اللَّيْلِ فَيَسْأَلُهُمْ رَبُّهُمْ : كَيْفَ تَرَكْـتُمْ عِبَادِيْ ؟ فَيَقُوْلُوْنَ : أَتَيْـنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّوْنَ وَتَرَكْـنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّوْنَ فَاغْفِرْ لَهُمْ يَوْمَ الدِّيْنِ
“Malaikat malam dan malaikat siang berkumpul dalam shalat Subuh dan shalat Ashar lalu mereka berkumupul dalam shalat Subuh dan malaikat malam –pun naik dan malaikat siang menginap (menetap). Mereka lalu berkumpul dalam shalat Ashar dan lalu malikat siang naik dan malaikat malam menginap. Tuhan mereka lalu bertanya: “Bagaimana kalian meninggalkan para hambaKu?” mereka menjawab: “Kami meninggalkan mereka saat mereka sedang shalat dan kami datang kepada mereka saat mereka sedang shalat. Maka ampunilah mereka pada hari pembalasan!”

Wahai orang beriman, maka mengertilah dengan pasti bahwa bersama anda ada malaikat malam dan malaikat siang yang senantiasa mengawasi amal perbuatan anda dan lalu melaporkannya kepada Tuhan Maha Agung Maha Mulia.

Laporan Secara Langsung
Dari Abdullah bin Saib ra. ia berkata:
Sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam shalat empat rakaat setelah matahari tergelincirt (Zawal) sebelum melakukan shalat fardgu Zhuhur. Selanjutnya Beliau bersabda:
          إِنَّهَا سَاعَةٌ تُفْتَحُ فِيْـهَا أَبْوَابُ السَّمَاءِ فَأُحِبُّ أَنْ يَصْعَدَ لِيْ فِيْهَا عَمَلٌ صَالِحٌ
“Sesungguhnya itu adalah saat pintu – pintu langit terbuka, maka aku ingin pada waktu itu ada amal shalehku yang naik” (HR Turmudzi – Ahmad)

Abu Ayyub al Anshari ra menceritakan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam yang bersabda:
          أَرْبَعٌ قَبْلَ الظُّهْرِ لَيْسَ فِيْهِنَّ تَسْلِيْمٌ تُفْتَحُ لَهُنَّ أَبْوَابُ السَّمَاءِ
“Empat rakaat sebelum zhuhur yang tiada salam di dalamnya, dibuka untuknya pintu – pintu langit” (al Mundziri berkata: HR Abu Dawud – Ibnu Majah dan dalam sanad keduanya ada kemungkinan untuk dihukumi Hasan.)

Imam Thabarani dalam al kabir  dan al ausath juga meriwayatkan (dari Abu Ayyub ra. Pent) dengan teks seperti berikut:
Ketika Rasulullah bertempat tinggal di tempatku – ketika awal kedatangan di Madinah – maka aku menyaksikan Beliau shallallahu alaihi wasallam  melanggengkan empat – shalat empat rakaat – sebelum zhuhut dan Beliau bersabda:
            إِنَّهُ إِذَا زَالَتِ الشَّمْسُ فُتِحَتْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ فَلاَ يُغْلَقُ فِيْهَا بَابٌ حَتَّي تُصَلَّى الظُّهْرُ فَأَنَا أُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ لِي فِى تِلْكَ السَّاعَةِ خَيْرٌ
“Sesungguhnya saat matahari tergelincir maka pinti – pintu langit dibuka dan lalu tidak satu pintu-pun ditutup sehingga shalat zhuhur dilaksanakan. Maka aku suka ada kebaikanku – amal shalehku – yang diangkat pada waktu itu”

Abdullah berkata:
Maka semestinya seorang muslim betul – betul peduli dan memperhatikan shalat sunnah qabliyyah zhuhut menyusul waktu zawal. Hendak ia menggunakan waktu tersebut dengan baik untuk berdo’a yang sangat mungkin akan dikabulkan karena pintu – pintu langit terbuka waktu itu. Tidak semestinya orang beriman  melalaikan dan justru sibuk dengan dunia yang sirna serta menyia – nyiakan kebaikan, do’a, hembusan rahmat dan berkah yang bermanfaat baginya di dalam kehidupan dunia dan setelah kematian.

Laporan Mingguan
Abu Hurairah ra berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
          تُعْرَضُ اْلأَعْمَالُ عَلَى اللهِ تَعَالَى فِى كُلِّ يَوْمِ خَمِيْسٍ وَاثْنَيْنِ فَيَغْفِرُ اللهُ لِكُلِّ امْرِئٍ لاَ يُشْرِكُ بِالله شَيْـئًا إِلاَّ مَنْ كَانَ بَيْـنَهُ وَبَيْنَ أَخِيْـهِ شَحْنَاءُ فَيَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى : اتْرُكُوْا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا
“Amal dilaporkan kepada Allah ta’ala setiap kamis dan senin. Allah lalu mengampuni setiap orang yang tidak menyekutukan sesuatu dengan Allah kecuali orang yang antara dirinya dan saudaranya ada kebencian. Allah pun berfirman: “Biarkanlah kedua orang ini sampai mereka berdamai!”(HR Muslim Turmudzi)

Dalam riwayat Imam Muslim disebutkan:
          تُفْتَحُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ يَوْمَ اْلإِثْنَيْنِ وَالْخَمِيْسِ فَيُغْـفَرُ لِكُلِّ عَبْدٍ لاَ يُشْرِكُ بِاللهِ شَيْئًا إِلاَّ رَجُلاً كَانَ بَيْـنَهُ وَبَيْنَ أَخِيْهِ شَحْنَاءُ
“Pintu – pintu surga dibuka pada hari senin dan kamis lalu setiap hamba yang tidak menyekutukan sesuatu apapun dengan Allah mendapat ampunan kecuali lelaki yang antaranya dan saudarantya ada kebencian”

Dari Abu Hurairah ra dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Beliau bersabda:
          تُعْرَضُ اْلأَعْمَالُ يَوْمَ اْلإِثْنَيْنِ وَالْخَمِيْسِ فَأُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ
“Amal – amal dilaporkan pada hari senin dan kamis maka aku suka bila amalku dilaporkan saat aku dalam keadaan berpusa”(HR Turmudzi)

Usamah bin Zaid ra berkata: Aku bertanya: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau berpuasa dan hampir tidak pernah berbuka, engkau berbuka dan hampir tidak pernah berpuasa – berpuasa sunnah – kecuali dua hari jika masuk dalam puasamu[1], dan jika tidak maka (secara khusus) engkau berpuasa di dalamnya?” Beliau bertanya: “Hari manakah itu?” aku menjawab: “Hari senin dan kamis”, Beliau lalu bersabda:
          ذَلِكَ يَوْمَانِ تُعْرَضُ فِيْهِمَا اْلأَعْمَالُ عَلَى رَبِّ الْعَالَمِيْنَ فَأُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ عَمَلِيْ وَأَنَا صَائِمٌ
“Itu adalah dua hari di mana amal – amal dilaporkan kepada Tuhan semesta alam, maka aku suka jika amalku dilaporkan dalam keadaan aku sedang berpuasa”

Dari Jabir ra sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
          تُعْرَضُ اْلأَعْمَالُ يَوْمَ اْلإِثْنَيْنِ وَالْخَمِيْسِ فَمِنْ مُسْتَغْفِرٍ فَيُغْفَرُ لَهُ وَمِنْ تَائِبٍ فَيُتَابُ عَلَيْهِ وَيَذَرُ أَهْلَ الضَّغَائِنِ بِضَغَائِنِهِمْ حَتَّي يَتُوْبُوْا
“Amal – amal dilaporkan pada hari senin dan kamis, lalu jika ada yang memohon ampunan maka ia diampuni, jika ada yang bertaubat maka taubatnya diterima, dan Dia membiarkan para pemilik kebencian – kebencian dengan kebencian – kebencian mereka sampai mereka bertaubat”

Dari hadits – hadits tersebut seorang muslim menjadi mengerti akan keutamaan dua hari ini; senin dan kamis yang karena itu hendaknya ia menjauhi kedengkian dan kebencian agar  amal – amal keshalehannya tidak terhalang untuk dinaikkan (dilaporkan). Pada hari itu hendaknya ia memperbanyak amal – amal shaleh dan ucapan yang baik sebab hari – hari memiliki hukum – hukum dan keistimewaan – keistimewaan sendiri. Sungguh hari – hari adalah laksana bejana – bejana bagi yang berlaku di dalamnya. Wahai orang yang berakal, jangan penuhi bejana – bejana anda kecuali dengan sesuatu yang mendekatkanmu kepada Tuhanmu azza wajalla. Kelak pasti akan datang kepadamu hari di mana bejana – bejana itu terbuka setelah ia tertutup saat kematianmu. Kelak akan menampak dan muncrat semua yang terkandung dalam bejana – bejana itu yang berupa ucapan dan amal perbuatanmu. Jika baik maka akan baunya akan semerbak dan wanginya akan menyebar dan kamu akan senang, gembira, merasa aman dan berbahagia. Sebaliknya jika jelek maka akan menyebar bau tidak sedap dan kegelepannya akan menyelimutimu dan kamu pasti mendapat penghinaan dalam perkumpulan besar tersebut sehingga kamu merasa sedih. 

Allah berfirman:
          ذَلِكَ يَوْمٌ مَجْمُوْعٌ لَهُ النَّاسُ وَذَلِكَ يَوْمٌ مَشْهُوْدٌ
“Itulah hari di mana karenanya manusia dikumpulkan. Itulah hari yang disaksikan” QS Hud: 103.[2]

-------------------------------------------------
[1] Maksudnya jika kebetulan bertepatan dengan puasamu (ramadhan atau yang lain). bila tidak bertepatan maka engkau secara khusus berpuasa di dalam keduanya
[2] Demikian ringkasan dari buku Shu’ud al Aqwal wa Raf’il A’mal ila al Kabir al Muta’aal milik Syekh Abdullah Sirajuddin

Bersambung.

sumber: http://www.shofwatuna.org/2014/04/454/

Madza fi Sya’ban: Kenapa? Ada apa di Bulan Sya’ban?

seri 1

Abuya As Sayyid Muhammad Al-Maliki dalam kitab Madza fi Sya’ban menulis:

bulansyabanDi bulan Sya’ban ada banyak peristiwa dan kejadian penting dan sangat layak mendapat perhatian melalui mobilisasi masa dengan perkumpulan, seminar, dan perayaan. Sebagian kejadian itu adalah:

Perpindahan (Tahwil) Qiblat
Perpindahan Qiblat dari Baitul Maqdis ke Ka’bah terjadi pada bulan Sya’ban. Sebelumnya Beliau shallallahu alaihi wasallam menantikan dengan keinginan kuat (Raghbah Qawiyyah). Setiap hari wajahnya sering kali  menengadah ke langit menanti wahyu Rabbani sampai akhirnya Allah Menentramkan mata Beliau dengan mengabulkan harapan dan keinginan. 

Turunlah firman Allah:
          قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِى السَّمَاءِ , فَلَنُوَلِّيَـنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُمَا كُنْـتُمْ فَوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ شَطْرَهُ …
 “Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil HaramDan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya… “ QS. al Baqarah:144.

Ini sejalan dengan firman Allah:
          وَلَسَوْفَ يُعْطِيْكَ رَبُّكَ فَتَرْضَي
“Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu , lalu (hati) kamu menjadi puas” QS. Ad Dhuha: 5.

Dan dengan begitu ungkapan Aisyah ra kepada Beliau shallallahu alaihi wasallam menjadi kenyataan:
مَاأَرَى رَبَّكَ إِلاَّ يُسَارِعُ فِى هَـوَاكَ
“Saya tidak melihat Tuhanmu kecuali segera melaksanakan keinginanmu “(HR Bukhari)

Sementara Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak ridho kecuali hal yang juga diridhoi Allah.
Abu Hatim al Busti berkata: [Kaum muslimin shalat menghadap Baitul Maqdis selama 17 bulan 3 hari sempurna terhitung dari kedatangan Beliau shallallahu alaihi wasallam pada hari Senin 12 Rabiul Awwal dan kemudian Allah memerintahkan menghadap Ka’bah pada hari selasa pada pertengahan (15) Sya’ban.

Bersambung.

sumber: http://www.shofwatuna.org/2014/03/kenapa-ada-apa-di-bulan-syaban/ 

Jumat, 16 Mei 2014

Tips Melatih Daya Ingat Anak dengan Mudah



 Setiap orang tua tentunya ingin memiliki anaknya pintar atau memiliki daya ingat yang kuat. Dengan memiliki daya ingat yang kuat tentunya orang tua mengharapkan anaknya akan mudah menyerap pelajaran di sekolah namun selanjutnya tidak mudah lupa kembali. Dengan demikian ketika si anak mengahadapi ujian atau test, anak yang memiliki daya ingat yang kuat tidak akan kesulitan dalam menjawab soal-soal yang ditanyakan karena tentunya jawaban-jawaban yang ada telah tertancap di pikirannya. Namun tidaklah mudah memiliki anak yanng memiliki daya ingat yang kuat. Dibutuhkan banyak hal untuk mewujudkannya. Dimulai dari faktor genetis, faktor nutrisi dan yang terakhir alah faktor cara belajar atau latihan. Berikut kami akan membahas bagaimana cara melatih anak agar memiliki daya ingat yang kuat.

Usia Batita

  1. Biasakan untuk mengajarkan anak untuk membangun berkomunikasi dengan baik. Anda bisa memulainya dengan hal kecil seperti menanyakan berbagai kegiatan yang telah ia lakukan sesimpel apapun. Ia akan terpancing untuk mengingat hal yang telah ia lakukan. Misalnya, bermain dengan siapa saja, apa permainannya, atau di mana ia menaruh mainannya.
  2. Arahkan ia untuk berlatih organisasi dirinya. Bisa dimulai dengan hal sederhana, seperti menaruh barang-barang miliknya dalam kategori tertentu dan tempat tertentu. Hal ini supaya ia mudah untuk mencari dan menaruh kembali barangnya. Dengan ini, ia akan terbiasa untuk berpikir cara mengolah info yang diperoleh untuk ingatan jangka panjang kelak.
  3. Menggunakan flash card akan mempermudah ia untuk mengenal benda-benda atau istilah baru. Caranya, perlihatkan kartu tersebut beberapa kali lalu tanyakan padanya nama-nama yang ada dalam kartu tersebut. Misalnya, nama sayuran, nama profesi, dan lain-lain.
  4. Ajak anak untuk bermain melempar gelang. Caranya, ketika anak melempar gelang, minta ia untuk sambil berhitung. Tidak perlu banyak-banyak, cukup lima atau sepuluh hitungan.
  5. Bermain pasel akan sangat mengasyikkan. Gunakan pasel yang tidak rumit, misal 3-5 potong atau keping. Beri waktu ia untuk mengamati bentuknya, baru melepas pasel tersebut dari dalam bingkainya. Ajak ia untuk menyusun sesuai dengan bentuk semula.
  6. Latih batita untuk mengingat-ingat cerita yang sudah disampaikan. Contohnya, nama-nama tokoh dalam cerita tersebut atau kisah apa saja yang terjadi dalam cerita tersebut. Kegiatan ini dapat mengasah daya ingatnya.

Usia Prasekolah

  1. Berikan pertanyaan-pertanyaan setelah ia selesai berkegiatan. Misal, apa saja yang diajarkan pak guru di sekolah, berapa jumlah teman-temannya yang absen hari itu. Berikan pertanyaan terbuka agar anak tidak bingung menjawabnya.
  2. Anda bisa mencari info-info tambahan pada buku, majalah atau referensi lain terkait cara efektif untuk meningkatkan daya ingat anak. Contohnya, mencocokkan gambar dengan pasangan yang sesuai, menebak dua gambar yang serupa tapi tidak sama.
  3. Ajak anak untuk bersama-sama menyusun jadwal kegiatan setiap hari. Hal ini bertujuan untuk meningkatan kemampuan memoriya. Karena ia akan terbiasa untuk mengigat kegiatan yang sudah ia susun dalam jadwal tersebut.
  4. Menyanyi juga merupakan cara yang efektif untuk menambah daya ingatnya. Hal ini disebabkan karena ketika bernyanyi, ia juga akan belajar mengingat lirik dan nadanya.

Minggu, 11 Mei 2014

Manfaat Daun Bawang



Bawang sering diolah menjadi bumbu masakan. Digoreng pun sangat pas untuk membuat gurih makanan. Tapi sayangnya, jarang yang menyukai daunnya, padahal sayuran ini punya banyak manfaat bagi kesehatan.

Daun bawang punya rasa pedas khas dan padat akan nutrisi. Juga rendah kalori dan memiliki kandungan vitamin, mineral dan antioksidan yang tinggi. 

Satu sendok makan potongan daun bawang mengandung 1 kalori, 0 gram lemak, 0 gram protein dan 0 gram karbohidrat, serta 3 persen asupan harian vitamin A dan C. Selain itu, satu porsi daun bawang juga mengandung vitamin K, folat, kolin, kalsium, magnesium, fosfor dan kalium.

Dengan kandungan yang sedemikian melimpah, daun bawang secara efektif mampu mengurangi risiko kanker perut dan kanker kolorektal. Bahkan, penelitian yang diterbitkan di dalamJournal of National Cancer Institute menyebutkan, daun bawang juga berpotensi mengurangi risiko kanker prostat.

Manfaat lain, mereka yang rajin mengonsumsi daun bawang akan terbantu kualitas tidur dan memorinya. Sedangkan kandungan folat berfungsi untuk mencegah depresi dengan mengendalikan homosistein.

Begitu banyak keuntungan yang didapat, mulai sekarang perbanyaklah konsumsi daun bawang untuk mempersedap hidangan, baik mentah maupun yang telah dimasak. Daun bawang nikmat dipadu dengan omelet ataupun menu makanan serba telur.

sumber: http://life.viva.co.id/news/read/494244-menilik-sejuta-manfaat-daun-bawang

8 Makanan Jangan Disimpan di Kulkas



Ketika datang perdebatan tentang penyimpanan makanan, kebanyakan orang akan berdebat dengan argumen mereka masing-masing. Banyak orang memperlakukan lemari pendingin seperti kotak penyimpanan semua barang, mulai dari obat-obatan hingga beragam makanan sisa.
Namun, bagaimana menyimpan makanan yang benar dalam lemari pendingin. Bagaimana menyimpan roti yang benar? Apakah di freezer atau di lemari pendingin, atau justru di kotak khusus roti? Haruskah tomat disimpan di lemari pendingin? 
Hal ini akan berbeda jawaban antara satu dan yang lainnya. Beberapa makanan bisa kehilangan rasa bila disimpan di lemari pendingin. 
Berikut beberapa makanan yang seharusnya disimpan di luar lemari pendingin, dilansir Huffington Post:
Tomat
Tomat akan kehilangan rasa jika disimpan dalam kulkas, hal ini karena udara dingin yang ada di kulkas akan menghentikan proses pematangan. Padahal, pematangan ini yang memberikan rasa pada tomat. Selain itu, kulkas mengubah tekstur tomat. Menurut Harold McGee dalam “On Food and Cooking,” temperatur dingin merusak membran di dalam dinding buah, dan mengubahnya menjadi bertepung.
Daun kemangi
Daun kemangi akan lebih cepat layu jika disimpan di dalam kulkas, dan daun ini juga akan menyerap semua bau makanan yang ada di sekitarnya. Akan lebih baik jika menyimpannya di luar dengan segelas air, seperti memotong bunga. Martha Steward merekomendasikan untuk melakukan blanching jika ingin menyimpan daun kemangi dalam waktu lama.
Kentang
Menyimpan kentang dalam suhu dingin akan mengubah zat tepung di dalam kentang menjadi gula lebih cepat, hal ini membuat kentang dengan rasa manis dan berpasir, dan bisa menyebabkan Anda lebih gemuk. Akan lebih baik menyimpan kentang dalam kantong kertas di tempat yang sejuk.
Kantong kertas ini jauh lebih baik daripada plastik, karena tempat ini memberikan ruang untuk bernapas dan membuat kentang lebih tahan lama. Martha Stewart menyarankan menyimpan kentang dalam suhu 45 derajat jika mungkin.
Bawang Bombay
Meletakkan bawang dalam kulkas hanya akan membuat bawang lebih lembut dan membusuk, karena kelembapan yang ada pada bawang itu sendiri. Simpan bawang di tempat yang sejuk dan kering. Letakkan bawang jauh dari kentang, karena jika disimpan bersama, keduanya akan lebih cepat membusuk.
Bawang putih
Bawang akan mulai bertunas jika disimpan dalam kulkas, dan bisa saja menjadi kenyal dan membusuk.
Roti
Kulkas hanya akan membuat roti cepat kering. Jika ingin menyimpan roti dalam beberapa hari, Anda bisa simpan di luar atau justru di freezer dengan dibungkus, jadi roti akan tetap lembut, dan biarkan mencair perlahan serta sempurna sebelum dimakan atau dipanggang.
Kopi
Menyimpan kopi dalam kulkas hanya akan membuat kopi kehilangan rasa dan menyerap aroma dari kulkas Anda. Simpan kopi di tempat sejuk, gelap, agar kopi tetap terjaga kesegaran dan rasanya.
Madu
Tidak ada gunanya menyimpan madu dalam kulkas. Madu akan tetap baik jika Anda menyimpannya dalam tutup yang rapat. Menyimpan madu dalam kulkas hanya akan membuat madu mengkristal.