Kamis, 18 April 2013

Islam dan Paham Pluralisme Agama


Pendahuluan
Pikiran yang menganggap semua agama itu sama telah lama masuk ke  Indonesia dan beberapa negara Islam lainnya. Tapi akhir-akhir ini pikiran itu menjelma menjadi sebuah paham dan gerakan “baru” yang kehadirannya serasa begitu mendadak, tiba-tiba dan mengejutkan. Ummat Islam seperti mendapat kerja rumah baru dari luar rumahnya sendiri. Padahal ummat Islam dari sejak dulu hingga kini telah biasa hidup ditengah kebhinekaan atau pluralitas agama dan menerimanya sebagai realitas sosial. Piagam Madinah dengan jelas sekali mengakomodir pluralitas agama saat itu dan para ulama telah pula menjelaskan hukum-hukum terkait. Apa sebenarnya dibalik gerakan ini?
Sebenarnya paham inipun bukan baru. Akar-akarnya seumur dengan akar modernisme di Barat dan gagasannya timbul dari perspektif dan pengalaman manusia Barat. Namun kalangan ummat Islam pendukung paham ini mencari-cari akarnya dari kondisi masyarakat Islam dimasa lalu dan juga ajaran Islam. Kesalahan yang terjadi, akhirnya adalah menganggap realitas kemajmukan (pluralitas) agama-agama dan paham pluralisme agama sebagai sama saja.  Parahnya, pluralisme agama malah dianggap realitas dan sunnatullah. Padahal keduanya sangat berbeda. Yang pertama (pluralitas agama) adalah kondisi dimana berbagai macam agama wujud secara bersamaan dalam suatu masyarakat atau Negara. Sedangkan yang kedua (pluralisme agama) adalah suatu paham yang menjadi tema penting dalam disiplin sosiologi, teologi dan filsafat agama yang berkembang di Barat dan juga agenda penting globalisasi. 
Solusi Islam terhadap adanya pluralitas agama adalah dengan mengakui perbedaan dan identitas agama masing-masing (lakum dÊnukum wa liya dÊn). Tapi solusi yang ditawarkan paham pluralisme agama lebh cenderung menghilangkan perbedaan dan identitas agama-agama yang ada. Jadi menganggap pluralisme agama sebagai sunnatullah adalah klaim yang berlebihan dan tidak benar. Dalam paham pluralisme agama yang berkembang di Barat sendiri terdapat sekurang-kurangnya dua aliran yang berbeda: yaitu: 1) Paham teologi global (global theology) dan  2) Paham kesatuan transenden agama-agama (Transcendent Unity of Religions).
Kedua aliran ini telah membangun gagasan, konsep dan prinsip masing-masing yang akhirnya menjadi paham yang sistemik. Munculnya kedua aliran diatas juga disebabkan oleh dua motif yang berbeda, meskipun keduanya muncul di Barat dan menjadi tumpuan perhatian masyarakat Barat. Tapi yang satu justru menyalahkan yang lain.

Aliran Global Theology
Bagi aliran pertama yang diwarnai oleh kajian sosiologis motif terpentingnya adalah karena tuntutan modernisasi dan globalisasi. Karena pentingnya agama di era globalisasi ini maka hubungan globalisasi dan agama menjadi tema sentral dalam sosiologi agama. Tentang hubungan antara agama dan globalisasi bisa dibaca dari Religion and Globalization, karya  Peter Bayer, Islam, Globalization and Postmodernity, karya Akbar S Ahmed dan H. Donnan, The Changing Face of Religion, karya James A Beckford dan Thomas Luckmann atau Religion and Global Order,  oleh Ronald Robertson dan WR. Garet. Bagi aliran pertama agama dianggap sebagai kendala bagi program globalisasi. Oleh sebab itu menurut Walters globalisasi dan kapitalisme digunakan untuk mengurangi atau bahkan menghapus otoritas agama, politik, militer dan sumber kekuasaan lainnya. (lihat Walters, Globalization (London:Routledge, 1995, hl 36). Cara yang ditempuh dalam program globalisasi ini adalah dengan mendorong semua pihak agar menjadi terbuka dan bebas menerima berbagai ideologi dan nilai-nilai sosial yang “dianggap” universal. Maraknya seminar tentang global ethic, religious dialogue, inter-faith dialogue yang diadakan oleh World Council of Religions dan lembaga lain merupakan bagian dari program globalisasi.  Organisasi non pemerintah (NGO) di dunia ketiga yang bergerak dalam bidang ini pun mendapat kucuran dana dengan mudah. Bukti bahwa Barat berkepentingan dengan paham ini dapat dilihat dari tema yang diangkat jurnal The Muslim World, rintisan tokoh missionaries Zwemmer volume  94 No.3, tahun 2004. Jurnal missionaris itu menurunkan tema pluralisme agama dengan fokus dialog Islam Kristen.
Jika globalisasi bukan merupakan program sudah tentu framework Barat tidak akan dominan. Tapi kenyataannya standar universal yang harus diterima semua agama dan semua bangsa dan peradaban itu berasal dari kebudayaan Barat. Demokrasi, Hak Asasi Manusia, feminisme / gender, liberalisme dan sekularisme adalah ideologi dan nilai-nilai asli Barat. Buktinya nilai moral dan etika yang berkaitan dengan masalah seks yang diterima semua agama, misalnya, tidak dijadikan nilai universal.
Program globalisasi yang memarginalkan agama adalah murni pengalaman Barat. Di Barat pergumulan pemikiran untuk menyeret agama agar akomodatif terhadap tuntutan sosial lebih dominan ketimbang upaya menciptakan masyarakat religius. Dalam sejarahnya Barat memang berhadapan dengan doktrin agama Kristen yang ekslusif, dengan doktrinnya extra exxlesiam nulla salus (diluar gereja tidak ada keselamatan) dan diluar Kristen tidak ada kesalamatan. Tapi karena tuntutan social sangat kuat, maka doktrin itupun bergeser menjadi penerimaan semua yang menyembah tuhan sebagai termasuk kedalam agama Kristen (inklusif). Doktrin inkusif inipun akhirnya bergeser lagi menjadi pluralisme. Paham pluralisme agama dalam merespon program globalisasi ini diusung oleh seorang penganut Protestan bernama John Hick dengan teori teologi globalnya (global theology). Sejalan dengan John Hick adalah Wilfred Cantwell Smith, pendiri McGill Islamic Studies. Ia mengajukan teori teologi dunianya (world theology). Keduanya membawa  paham yang sama satu teologi untuk semua agama diseluruh dunia.
Solusi yang ditawarkan aliran ini berdasarkan motif sosiologis dengan konsep dunia yang tanpa batas geografis kultural, ideologis, teologis, kepercayaan dan lain-lain. Artinya identitas kultural, kepercayaan dan agama harus dilebur atau disesuaikan dengan zaman modern. Kelompok ini yakin bahwa agama-agama itu berevolusi dan nanti akan saling mendekat yang pada akhirnya tidak akan ada lagi identitas agama-agama apalagi perbedaan antara satu agama dengan lainnya. Agama-agama itu kemudian akan melebur menjadi satu teologi yang disebut teologi global (global theology).
Tokoh-tokoh lain dapat dilihat dari karya Hick berjudul Problems of Religious Pluralism. Pada halaman dedikasi buku ini John Hick menulis yang terjemahannya begini: “Kepada kawan-kawan yang merupakan nabi-nabi pluralisme agama dalam berbagai tradisi mereka: Masau Abe dalam agama Buddha, Hasan Askari dalam Islam, Ramchandra Gandhi dalam agama Hindu, Kushdeva Singh dalam agama Sikh, Wilfred Cantwell Smith dalam agama Kristen dan Leo Trepp dalam agama Yahudi.

Aliran Transenden
Berbeda dari motif aliran pertama yang diwarnai pendekatan sosiologis, motif aliran kedua yang didominasi oleh pendekatan filosofis dan teologis Barat justru kebalikan dari motif aliran pertama. Kalangan filosof dan teolog justru menolak arus modernisasi dan globalisasi yang cenderung mengetepikan agama itu dengan berusaha mempertahankan tradisi yang terdapat dalam agama-agama itu. Yang pertama memakai pendekatan sosiologis, sedangkan yang kedua memakai pendekatan religious filosofis. 
Solusi yang ditawarkan oleh aliran kedua adalah pendekatan religious filosofis  dan membela eksistensi agama-agama. Bagi kelompok ini agama tidak bisa di rubah begitu saja dengan mengikuti zaman globalisasi, zaman modern ataupun post-modern yang telah meminggirkan agama itu. Agama tidak bisa dilihat hanya dari perspektif sosilogis ataupun histories dan tidak pula dihilangkan identitasnya. Kelompok ini lalu memperkenalkan pendekatan tradisional dan mengangkat konsep-konsep yang diambil secara parallel dari tradisi agama-agama. Salah satu konsep utama kelompok ini adalah konsep sophia perrenis yang diterjemahkan kedalam bahasa Hindu menjadi Sanata Dharma atau kedalam bahasa Arab menjadi al-Íikmah al-khÉlidah. Konsep ini mengandung pandangan bahwa di dalam setiap agama terdapat tradisi-tradisi sakral yang perlu dihidupkan dan dipelihara secara adil, tanpa menganggap salah satunya lebih superior dari pada yang lain. Agama bagi aliran ini adalah bagaikan “jalan-jalan yang mengantarkan ke puncak yang sama” (“all paths lead to the same summit). Aliran kedua ini mengusung ide kesatuan transenden agama-agama (Transcendent Unity of Religions). Penggagas awalnya Fritjhof Schuon yang diilhami oleh Rene Guenon.
Schuon yang dikabarkan masuk Islam itu mempunyai pengikut fanatik dari cendekiawan Muslim asal Iran yaitu Seyyed Hossein Nasr. Beliaulah yang menterjemahkan istilah philosophia perrenis itu menjadi al-Íikmah al-khÉlidah. Jadi Guenon, Schuon dan Nasr mendukung paham kesatuan transenden agama-agama. Pendekatan yang diambil aliran ini berasal dari pengalaman spiritual dari tradisi mistik yang terdapat dalam tradisi agama-agama. Dalam kasus Islam mereka mengambil pengalaman spiritual dari tradisi sufi. Artinya mereka mengklaim bahwa para sufi itu pluralis
Tokoh pencetus dan pendukung paham ini adalah René Guénon (m. 1951), T. S. Eliot (m. 1965), Titus Burckhardt (m. 1984), Fritjhof Schuon  (m.1998),  Ananda K. Coomaraswamy (m. 1947), Martin Ling, Seyyed Hossein Nasr, Huston Smith, Louis Massignon, Marco Pallis (m. 1989), Henry Corbin, Jean-Louis Michon, Jean Cantein, Victor Danner, Joseph E. Brown, William Stoddart, Lord Northbourne, Gai Eaton, W. N. Perry, G. Durand, E. F. Schumacher, J. Needleman, William C. Chittick dan lain-lain.

Pluralisme Agama dan Ilmu Perbadingan Agama
Pluralisme agama juga memiliki kaitan erat dengan ilmu perbandingan agama. Pada mulanya masalah ekslusifisme suatu agama adalah wacana teologis, namun karena di Barat teologi berada di bawah filsafat, maka wacana pluralisme agama berada di tangan para filosof. Para filosof yang merasakan trauma hegemoni gereja dan otoritas mutlak para teolog, merasa perlu untuk melawan. Dan ini dilakukan mereka dengan cara mengetrapkan pemikiran yang bebas secara ekstrim. Dengan kebebasan itu mereka memarginalkan agama, mengangkat doktrin nihilisme nilai, mendobrak teologi dan bahkan “memasung” kekuasaan Tuhan.  Agama di Barat akhirnya menjadi obyek kajian para filosof yang tidak mempunyai otoritas itu. Rasionalisasi agama tidak berarti memahami agama secara rasional, tapi lebih merupakan upaya agar agama itu tunduk pada pemahaman rasio manusia. Jika suatu agama tidak sesuai dengan tuntutan social maka doktrin agama perlu dikorbankan. Pluralisme agama adalah upaya agar doktrin-doktrin agama itu tunduk pada kondisi social dan tuntutan akal manusia. Doktrin nihilisme misalnya merupakan upaya untuk menundukkan dan bahkan menghapus supremasi kebenaran agama.
Dari kondisi seperti ini maka “bola” diskursus agama berada ditangan para filosof, yang kebanyakan adalah aktifis atau mantan aktifis gerakan Protestan Liberal. Di Barat sudah bukan rahasia lagi bahwa teologi menjadi bulan-bulanan para filosof (theology was subservient to philosophy). Untuk sekedar menyebut beberapa nama,  Sartre, Heidegger, Jung, Ludwig Feurbach, William James, Nietzsche, Kant dan lain-lain, adalah filosof-filosof yang bicara soal agama.  Para pakar sosiologi, psikologi, antropologi dll pun ikut-ikutan. Para sosiolog menggunakan teori evolusi Charles Darwin (1809-1882) untuk menjustifikasi adanya perubahan dalam agama. Herbert Spencer (1820-1904) juga mengikuti. Friedrich Max Muller (1794-1827), Emile Durkheim (1858-1917), Rudolf Otto (1869-1937) dan lain-lain mengaitkan agama dengan realitas sosial.
Dengan dihapuskannya supremasi agama maka teologi dianggap tidak relevan lagi. Para filosof akhirnya mencari “rumah baru” untuk memberi tempat bagi diskusi-diskusi mereka tentang agama.”Rumah Baru” itu adalah disiplin ilmu baru yang tidak disebut teologi, tapi philosophy of religion yang akarnya adalah comparative religion. Disini seakan-akan pembahasan agama bebas dari paham sesuatu agama. Dari diskursus tentang agama-agama inilah muncul teori dan paham pluralisme agama. Wacana pluralisme agama yang kini telah menjadi paham atau doktrin ini kemudian masuk dalam diskusi-diskusi tentang toleransi beragama, kerukunan umat beragama, inter-faith dialogue dan semacamnya. Bahkan pasca kejadian 11 september pluralisme agama nampak seperti diramu dengan doktrin liberalisme agar menjadi “pain-killer” bagi fenomena terorisme dan ekstrimisme.   
Harus diakui bahwa Filsafat Agama adalah suatu disiplin ilmu yang metode dan teorinya adalah filsafat Barat. Obyeknya adalah semua agama. Sudah tentu ketika filsafat membahas agama-agama itu, worldview Barat berada pada posisi bird-eye. Doktrin filsafat berada diatas doktrin agama-agama.
Bahkan dalam era globalisasi  disiplin ilmu ini kemudian di kembangkan menjadi Filsafat Agama Lintas Kultural (Cross-cultural philosophy of religion). Ini berarti bahwa obyek kajian filsafat agama diperluas dari sekedar agama yang ada dalam kultur Barat menjadi agama-agama dan kepercayaan yang berasal dari kultur lain.  Metode dan cara pandangnya tetap pemikiran filsafat, sosioligi dan antropologi Barat. Agama hanya dianggap sebagai produk dari kreatifitas manusia dan akan terus berubah sebagaimana makhluk hidup (living organism). Namanya pun dirubah menjadi sekedar penumpukan tradisi (cummulative tradition).
Namun, menurut Thomas Dean, dalam Religious Pluralism and Truth benih-benih disiplin ilmu filsafat agama telah ada sejak tahun 1950an, ia berbuah pada tahun 1960-an, membesar pada tahun 1970-an dan menjadi buah masak pada tahun 1980-an. Benihnya dimulai dari Ninian Smart, seorang filosof dan sejarawan Barat yang pada tahun 1958 menerbitkan karya filsafat agama yang berjudul Reason and Faith. Dalam buku ini ia  menghimbau agar filsafat dan sejarah agama baik di Barat maupun di Asia bekerjasama. Hal ini baginya sangat penting agar filsafat agama dapat berperan dalam kebudayaan yang pluralistis dan global pada akhir abad ke dua puluh. Menurut Dean, selama hampir dua puluh tahun buku ini belum tertandingi dan dianggap pioneer dalam bidangnya.
Periode pengembangan yang terjadi pada tahun 1960an ditandai oleh peluncuran buku Wilfred Cantwell Smith yang berjudul The Meaning and End of Religion. Buku dianggap telah membuka jalan bagi formulasi baru tentang problematika pemahaman agama lintas kultural.  Sebab disini, untuk pertama kalinya, ia menunjukkan sumbangan sejarah dan fenomenologi agama-agama terhadap filsafat agama lintas kultural. Buku ini menjadi penting karena selain mendukung pandangan bahwa kehidupan keagamaan manusia adalah sebuah dynamic historical continuum, juga menolak klaim kelompok transendentalis seperti Rene Guenon, F.Schuon, S.H.Nasr yang menganggap agama-agama didunia secara konseptual merupakan sistim tertutup.
Wacana ini kemudian mendapat sokongan dari para filosof dan ilmuwan di bidang agama. Pada tahun 1970an, yakni periode pembesaran, ditandai oleh penerbitan essay analitis yang ditulis William Christian yang berjudul Opposition of Religious Doctrines (1972) yang mendapat sambutan luas itu.  Ditambah lagi ketika karya “kroyokan” para filosof dan pakar sejarah agama yang berjudul Truth and Dialogue in World Religions: Conflicting Truth-Claim (1974) dan yang disunting John Hick terbit. Buah itu menjadi semakin besar ketika Raimundo Panikkar menerbitkan bukunya, The Intrareligious Dialogue (1978) dan Hick sendiri menulis buku Philosophy of Religion. Sebagai titik kulminasi dari wacana ini adalah terbitnya karya Wilfred Smith yang berjudul Towards World Teology, dan karya John Hick berjudul Problems of Religious Pluralism (1985) dan Interpretation of Religion (Gifford Lecture, 1986-87). Didalam karyanya inilah Hick mendeklarasikan perlunya teologi global. Jadi “buah masak” dari disiplin filsafat agama adalah pluralisme agama.  Goal getter nya  adalah Smith dan Hick.
Dari paparan diatas semakin jelas bahwa hubungan antara doktrin pluralisme agama dengan pemikiran filosof dan saintis sangat erat. Smith yang mangadopsi teori Newtonian Revolution menganggap agama-agama itu sebagai planet-planet yang memiliki hukum gravitasi dan pergerakan yang sama. Jika hukum-hukum alam ini tidak hanya berlaku pada planet bumi saja maka hukum-hukum agama itu tidak hanya berlaku pada satu agama saja, tapi  juga berlaku untuk semua agama. Sementara itu global teologi John Hick mengadopsi teori Copernican Revolution. Jika Copernicus memindahkan pusat gravitasi dari bumi ke matahari maka Hick memindahkan pusat gravitasi teologi dari agama-agama kepada Tuhan (Religion-centredness to God centredness), dalam bahasa lain Hick memindahkan keberagamaan dari individu kepada Realitas Mutlak (self-centredness to Reality centredness). Konon gagasan pluralisme agama yang dicari akarnya dari ide pluralitas alam itu mula-mula diangkat oleh John Donne, seorang sastrawan Inggeris abad ke 16 (John Donne,  dikutip dari Steven J. Dick, Plurality of Worlds (1982), hal. 49.). Ide ini kemudian berkembang menjadi pemikiran yang pluralistis pada abad-abad berikutnya di Eropah. Akan tetapi kini orang menganggap Smith dan Hick sebagai pioneer doktrin ini.

Kesimpulan
Karena plurlasme agama ini sejalan dengan agenda globalisasi, ia pun masuk kedalam wacana keagamaan agama-agama, termasuk Islam. Ketika paham ini masuk kedalam pemikiran keagamaan Islam respon yang timbul hanyalah adopsi ataupun modifikasi dalam takaran yang minimal dan lebih cenderung menjustifikasi. Respon yang tidak kritis ini akhirnya justru meleburkan nilai-nilai dan doktrin-doktrin keagamaan Islam kedalam arus pemikiran modernisasi dan globalisasi. Para pendukung paham pluralisme ini sangat getol berupaya memaknai kembali konsep Ahlul KitÉb dengan mengesampingkan penafsian para ulama yang otoritatif. Dalam memaknai konsep itu  proses dekonstruksi dengan menggunakan ilmu-ilmu Barat modern dianggap sah-sah saja. Inilah sebenarnya yang telah dilakukan oleh Mohammad Arkoun. Ia menyarankan, misalnya, agar pemahaman Islam yang dianggap ortodoks ditinjau kembali dengan pendekatan ilmu-ilmu sosial-historis Barat. Dan dalam kaitannya dengan pluralisme agama ia mencanangkan agar makna Ahl al-KitÉb itu didekonstruksi agar lebih kontekstual.
Paham pluralisme agama ini ternyata bukan hanya sebuah wacana yang sifatnya teoritis, tapi telah merupakan gerakan social yang cenderung politis. Karena ia adalah gerakan social, maka wacana teologis dan filosofis ini akhirnya diterima masyarakat awam sebagai paham persamaan agama-agama. Tokoh-tokoh masyarakat, artis, aktifis LSM, tokoh-tokoh politik kini tidak segan-segan lagi mengatakan bahwa semua agama adalah sama, tidak ada agama yang lebih benar dari agama lain. 

sumber: http://insistnet.com 

Rabu, 17 April 2013

Menuju Rumah Idaman

oleh : Abina wa Murobbi-ruuhina KHM. Ihya' 'Ulumiddin

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya. Dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” QS. Ar Rum ayat 21

Dalam ayat tersebut terkandung adanya proses kholaqo yang berarti bahwa suami-isteri merupakan pasangan yang telah ditakdirkan Alloh dengan bermacam-macam cara Alloh mempertemukannya. Yang jelas, tetap kembali pada proses kholaqo sebagaimana Alloh menciptakan langit, bumi, hidup, dan mati yang semuanya itu merupakan kehendak Alloh tanpa ada campur tangan manusia. Jika kita mengerti bahwa semuanya adalah ketentuan Alloh, maka tidak ada hal-hal di dunia ini yang kita tidak senang kepadanya. Karena itu, jika ada musibah, hendaknya dikembalikan kepada Alloh yang selanjutnya ditanggapi dengan ridho, tawakkal, dan pasrah diri. Kita jangan sampai merasa ngersula (mengeluh, Jawa), nelangsa, dan sebagainya.


Alloh pernah menimpakan ujian berupa isteri kepada Nabi Luth Alaihissalam. Isteri beliau bukanlah sebagai pendamping yang setia dan menyenangkan, tetapi merupakan pendamping yang menyakitkan hati. Ujian itu dihadapinya dengan sabar, dan tawakkal kepada Alloh. Tentu saja, setiap suami tidak mengharapkan ujian seperti yang dialami Nabi Luth Alaihissalam. Para suami tentu mengharapkan isterinya menjadi isteri yang sholihah, menjadi qurrota a'yun (penyejuk mata). Karena itu, kita hendaknya senantiasa berdoa sebagaimana yang diajarkan Alloh dalam QS. Al Furqon: 74 yang artinya :

“Dan orang-orang yang berkata : “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.”
Di samping menjadi qurrota a'yun, seorang isteri bisa juga menjadi musuh dan fitnah. Alloh berfirman dalam QS. At Taghobun ayat 14 yang artinya :

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka. Dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Isteri menjadi fitnah bisa saja karena salah memilih jodoh yang bukan karena dien-nya. Kalau kita memilih jodoh karena harta, kecantikan, atau pangkatnya, maka tunggu saja kalau nantinya malah diuji oleh Alloh. Misalnya, kalau kita memilihnya karena ingin cepat kaya, bisa jadi malah tidak cepat kaya karena hal ini berkaitan dengan syahwat, dan syahwat adalah sebab dari munculnya fitnah. Jadi, apa yang menjadi niatnya, nanti akan bisa berbalik dari tujuannya.

Perjodohan memang sudah menjadi sunnah Alloh. Akan tetapi, hal-hal yang berkaitan dengan tujuan hidup yang mawaddah warahmah Alloh menggunakan lafadz ja'ala yang berbeda prosesnya dengan lafadz kholaqo. Kholaqo berkaitan dengan qodlo' dan qodar, sedang ja'ala berkaitan dengan usaha manusia. Jadi, sebuah keluarga menjadi mawaddah warahmah sebagai pondasi/asas rumah teladan merupakan ikhtiar/usaha manusia (suami-isteri).

Rumah teladan merupakan rumah yang selalu didambakan oleh setiap pasangan suami-isteri. Banyak resep yang selalu dijalankan untuk mencapainya. Tetapi, tentu saja resep itu tidak bisa mencapai sasaran sebagaimana yang diharapkan. Memang, untuk mencapai rumah idaman dibutuhkan figur teladan, contoh yang telah sukses mencapai keluarga sakinah. Sebagai seorang muslim, figur teladan itu tidak ada yang lain kecuali figur Rosululloh Shollallohu Alaihi Wasallam sebagaimana yang difirmankan Alloh dalam QS. Al Ahzab ayat 21 yang artinya :

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Alloh dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Alloh.”

Hal-hal di bawah ini bisa dijadikan panduan untuk mencapai rumah teladan:

1. Basiitun fii jawaanibihi, mencari yang mudah-mudah saja, tidak perlu repot-repot, baik dari sisi materi maupun dari sisi maknawi. Dari sisi materi berarti jauh dari sifat berlebihan dalam hal makanan, minuman, dan perabot rumah tangga. Hal ini sesuai dengan firman Alloh dalam Al Qur'an surat Al A'rof ayat 31 yang artinya: " Makan dan minumlah kamu semua dan janganlah kamu semua berlebih-lebihan. Sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang-orang yang berlebihan." Jadi, dalam masalah ini tidak perlu melihat orang lain. Rezeki tiap orang tidaklah sama. Kebahagiaan hidup kita harus diukur dengan diri sendiri, tidak dengan ukuran orang lain.

Dari sisi maknawi sikap ini tecermin dalam cara perilaku dan berpikir yaitu yang gampang-gampang saja, tidak perlu berpikir yang repot-repot. Sayyidah Aisyah ra. mengatakan bahwa : "Rosululloh saw. tidak diminta untuk memilih di antara dua hal kecuali beliau memilih yang paling gampang."

Hidup ini hanya beribadah kepada Alloh, bukan untuk manusia. Jadi, terserah mereka apakah mau senang atau benci kepada kita. Misalnya, dalam urusan rumah tempat tinggal, mereka mau masuk atau tidak ke rumah kita, itu terserah mereka. Rumah kita diatur sesuai dengan selera kita. Merupakan hal yang tidak mungkin membuat semua orang ridlo kepada kita.

Kita bisa melihat kembali, bagaimana Lukmanul Hakim mengajari anaknya dalam masalah menuruti kemauan manusia. Suatu ketika, Lukmanul Hakim mengajak anaknya sambil membawa seekor himar berkeliling kampung. Ketika itu Lukman dan anaknya tidak menunggangi himar. Orang kampung berkata, "Membawa himar kok tidak dinaiki." Maka, Lukman menaiki himar tersebut dan anaknya yang menuntun. Ketika sampai di kampung kedua, orang kampung berkata, "Ayah itu tidak sayang pada anaknya." Maka ganti anaknya naik himar dan ayahnya yang menuntun. Sampai di kampung berikutnya orang kampung berkata, "Anak itu kurang ajar, bapaknya menuntun himar sementara dia yang naik.” Kemudian Lukman dan anaknya menaiki himar. Pada kampung berikutnya orang kampung berkata, "Himar kecil kok dinaiki dua orang." Akhirnya Lukman berkata pada anaknya, "Tinggal satu lagi Nak, sekarang biar himar itu yang naik di atas kita.” Kemudian orang-orang berkata, "Gila itu." Itulah manusia. Kita tidak mungkin memuaskan semuanya. Jadi, ukuran kebahagian adalah diri kita sendiri. Yang penting kita senang; kita tidak mengganggu, merepotkan orang, dan membebani orang lain.

2. Baitun Thoohirun Wanadhiifun, rumah yang suci dan bersih.
Walaupun rumah itu kecil, tetapi hendaknya bersih dan rapi. Rumah jangan kelihatan kotor. Kita tahu bahwa Alloh mencintai orang-orang yang selalu menjaga kebersihan dan kesucian. Bila kita menjumpai anak-anak kita mencoret-coret tembok maka kita harus segera menghapusnya sebab anak itu juga kadang-kadang sebagai ujian.

3. Dalam membentuk keluarga sakinah mawaddah warohmah kita telah diajarkan agar menghindari suara yang keras dan berteriak. Seperti disebutkan Alloh dalam surat Lukman ayat 19 yang artinya: "Hendaklah kamu rendahkan suaramu karena yang paling tidak disenangi dalam suara ini adalah suara himar." Dengan merendahkan suara bisa membentuk rumah teladan. Jika kita memarahi anak tidak perlu teriak-teriak karena tidak baik didengar tetangga.

Rasululloh saw. suatu waktu memberitahu seluruh umat bahwa di surga nanti Sayyidah Khodijah ra. mempunyai rumah dari bambu yang tenang, tidak ada suara keras dan teriakan-teriakan. Dalam hadits itu disebutkan bambu surga dengan disifati tidak ada suara keras dan teriakan. Mengapa demikian? Ulama memberi komentar bahwa ketika Sayyidah Khodijah diajak masuk Islam, ia tidak pernah membantah sama sekali, tidak pernah bersuara apapun sekaligus mengiyakan dan tanpa komentar. Karena itu, di surga nanti rumah yang paling tenang adalah rumah Sayyidah Khodijah.

Kita sendiri berusaha membuat suasana rumah yang tenang sekalipun kedatangan banyak saudara yang sudah lama tidak berjumpa atau bertemu. Untuk menciptakan mawaddah warohmah diperlukan suatu tadrib (latihan diri). Kecintaan itu akan selalu tumbuh di antara kita kalau kita tidak melakukan hal-hal yang terlarang. Misalnya, jika terjadi su'ut tafahhum (kesalahpahaman) antara suami dan isteri tentang suatu masalah sehingga terjadi pertengkaran maka terapi yang paling mujarab adalah attaghooful (semua dilupakan) seperti tidak terjadi apa-apa dan segera minta maaf.

Sebenarnya sifat orang itu tidak sama. Ada orang yang cepat marah tapi cepat kembali. Yang repot yaitu kalau cepat marah dan lama kembali. Ada juga orang yang tidak bisa marah. Sudah berkali-kali dibuat marah tapi tidak marah juga. Dalam rangka memberikan pelajaran (tadrib), seseorang harus bisa marah. Misalnya, jika suatu saat suami serong maka isteri harus bisa marah. Begitu juga jika isteri bertindak yang tidak baik , suami juga harus bisa marah. Kalau marah hendaknya cepat kembali. Tetapi yang susah kalau sudah menjadi watak (cepat marah), ya hendaknya diterima sebagai ujian, harus sabar. Jangan sampai dijadikan alasan sebagai pertengkaran yang berlanjut sampai pada tingkat menggoyangkan 'arsy.

Hal-hal kecil lainnya yang perlu diperhatikan misalnya masalah makanan. Rasulullah tidak pernah mencela makanan, menanyakan ada makanan atau tidak. Kalau kita belum bisa pada tingkat itu, tetapi yang penting jangan sampai mencela makanan. Karena bisa jadi akhirnya yang masak bisa tersinggung, terutama isteri, sehingga bisa mengundang pertengkaran.

Rasulullah memang pernah menanyakan makanan, tetapi ada hubungannya dengan memberitahu hukumnya pada orang banyak. Dalam sebuah hadits dikatakan, bahwa ketika Rasulullah sedang berada di rumah Bariroh. Pada waktu itu Bariroh memasak bubur. Rasulullah tahu, tetapi kok lama tidak dihidangkan. Akhirnya, Rasullah bertanya, mengapa tidak dikeluarkan? Ternyata, tidak dikeluarkannya makanan tersebut karena bubur tersebut dari daging zakat atau shodaqoh bagi Bariroh. Kemudian Rasulullah bersabda : "Itu shodaqoh bagi Bariroh, tetapi bagi saya hadiah."

Di sini Rasulullah memberi pelajaran pada kita tentang hukum makanan yang semula adalah zakat/shodaqoh tetapi jika diberikan pada orang lain berubah menjadi hadiah.

Ada lagi yang perlu diperhatikan di antaranya dalam rumah tangga janganlah selalu terlihat dalam suasana yang serius. Jadi perlu diselingi dengan canda. Sekian kali Rasulullah terlihat bercanda dengan isteri dan anaknya. Pernah suatu ketika Rasulullah yang pada waktu itu berusia 50 tahun dan Sayyidah Aisya ra. ? 9 tahun, memperhatikan Sayyidah Aisya RA yang masih senang bermain. Kemudian oleh Rasulullah diajak balapan.

Guyon (bercanda) diperbolehkan, asal tidak sampai pada tingkat yang dilarang oleh Alloh. Semuanya demi untuk menghilangkan ’inqimas (rasa 'mbededeg' dalam hati yang akhirnya bisa menimbulkan masalah. Untuk menyenangkan hati perlu diselingi guyon-guyon. "Adalah Rasulullah saw. itu paling banyak guyon diantara manusia dengan istrinya." Tetapi kalau beliau sedang memberi pelajaran (ta'lim), para sahabat tidak ada yang berani mengangkat kepalanya, apalagi melihat, saking haibahnya Rasulullah. Mereka yang menatap langsung gemetar.

4. Memisahkan tempat tidur anak laik-laki dan perempuan dalam kamar terpisah. Sekalipun saudaranya sendiri, tetapi yang namanya ghorizatun nau' asalnya mungkin sahwat tipis, tetapi Rasulullah memberi pelajaran supaya mulai kecil dipisah. Rasulullah saw. bersabda yang artinya : “Perintahkanlah anak-anakmu untuk sholat ketika berusia 7 tahun, pukullah jika meninggalkan sholat ketika berusia 10 tahun (dengan pukulan yang tidak menimbulkan cacat, bersifat sebagai pelajaran) dan pisahlah tidur mereka dalam ranjang-ranjangnya.”

Sayyid Muhammad bin Alawi Al Maliki dalam kitabnya Nidhomul Usroh, diantaranya beliau mengatakan : "Sekolahan yang dari kecil berkumpul antara laki-laki dan perempuan (karena dianggap tidak ada syahwat) sebenarnya malah menanamkan bibit ghorizah.” Jadi mulai kecil mulai sudah kenal. Karena mendidik anak diwaktu kecil sama dengan mengukir, sementara mendidik anak diwaktu besar sama dengan melukis di atas air.

5. Tolong-menolong dari setiap anggota keluarga untuk kepentingan rumah tangga.
Pembagian pekerjaan sesuai dengan kecenderungan masing-masing anggota keluarga. Dibiasakan dari yang kecil sampai yang besar, seluruhnya bersama-sama. Adalah Rasulullah saw. membantu keluarganya dalam urusan rumah. Maka Rasulullah juga sempat menjahit sandalnya sendiri. Memeras susu-susu kambing Rasulullah sendiri dan menggendong anaknya. Dan ini adalah perkara yang mulia. Bahkan ketika ke pasar dan beliau membawa tasnya sendiri, kemudian sahabat ingin membawakan tasnya, beliau berkata : "Yang punya berhak untuk membawanya."

Dalam rumah teladan ini juga diajarkan bagaimana kita mengarahkan tarbiyah anak pada 3 hal :
1. Tarbiyah jasadiyah.
2. Tarbiyah aqliyah.
3. Tarbiyah nafsiyah mustaqimah.

Tarbiyah jasadiyah
adalah tarbiyah tentang fisiknya atau jasadnya. Demi untuk kesehatannya harus diperhatikan makanannya, minumannya, vitaminnya, dll. Jangan eman-eman keluar uang. Barokah. Insya Alloh.

Bagaimana dengan pendidikan akalnya supaya cerdas? Usahakan anak itu kreatif. Maka akalnya juga harus dikembangkan. Karena itu dalam masa bermain jangan terlalu dikekang. Tidak boleh ini, itu, harus tidur jam sekian. Semakin punya kreatifitas, maka simpanan kekuatan kreatifitasnya itu menjadi cerdasnya kelak. Memang resiko punya anak kreatif. Minta ini-itu seenaknya. Selama tidak membahayakan dirinya, jangan dilarang. Penting juga diberi mainan yang mengasah otak.

Tetapi juga jangan lupa nafsiyah mustaqimah (pribadi yang mustaqimah). Arahan-arahan seperti mengambil sesuatu dengan tangan kanan, diberi tahu mana tangan bagus, mana tangan jelek. Sehingga nafsiyah terdidik sejak kecil. Supaya nafsiyahnya kuat, usahakan anak untuk mengerti Al Qur'an, paling tidak hafal juz 'amma. Kalau orang Mesir, Yaman, untuk anak pertama selalu ditempa terus dengan Al Qur'an.

Maka kalau bikin TK pun lebih banyak Al Qur'an-nya daripada yang lain. Malah kalau bisa 2-3 tahun hafal juz 'amma. Imam Syafi'i umur 7 tahun hafal Al Qur'an. Hafal Al Qur'an bisa membantu akalnya. Masalahnya Al Qur'an itu mudah lepas. Jadi kalau sejak kecil sudah hafal, insya Alloh hafalannya akan kuat (njangget). Daripada diberi hafalan lagu-lagu lebih baik Al Qur'an atau do'a-do'a.

Tetapi jangan hanya mengandalkan guru di sekolah. Orang tua harus selalu membiasakan mengiringi anak untuk berdo'a dalam setiap aktifitasnya seperti sebelum makan, tidur, pergi, keluar kamar mandi, dsb. Dari pendidikan nafsiyah mustaqimah ini kita bisa mengarahkan anak supaya punya sifat kasih sayang, kecintaan dan punya rasa tanggung jawab.

Inilah diantaranya gambaran-gambaran tentang membina rumah teladan sesuai dengan ajaran Rasulullah Sholallahu alaihi wassalam.

[]

Siapakah figur Abina Ihya' sebenarnya?

Biografi - KH. M. Ihya' Ulumiddin

Written By Bapak e Muhammad on Selasa, Juli 10, 2012 | 06.50

Seorang Pandai Memandaikan

Terlahir pada 10 Agustus 1952  di desa Parengan Maduran Lamongan, KH Ihya’ Ulumiddin setelah lulus SR pada tahun 1964 lalu melanjutkan pendidikan di pesantren Langitan dalam asuhan KH Abdul Hadi Zahid, seorang ulama kharismatik yang sangat terkenal dengan ke istiqamahan nya. Kurang lebih sepuluh tahun mondok di langitan dari tahun kemudian melanjutkan magang sekaligus belajar di  YAPI Bangil yang dinahkodai oleh Habib Husen al Habsyi sebelum beliau berubah faham sebagai seorang penganut Syiah.  Dari Habib Husen inilah KH M. Ihya’ Ulumiddin mengakui mengenal sesuatu yang dinamakan gerakan dakwah. 

Dari persentuhan dengan Habib Husen ini pula, semangat mendalami ilmu dan memperjuangkan agama semakin membara dalam hati ustadz Ihya’ muda yang kala itu sudah mulai banyak dikenal sebagai seorang santri yang alim. Akhirnya sampailah pengembaraan ilmu di tanah haram Makkah yang pada gilirannya Allah mempertemukan beliau dengan guru murabbi Abuya As Sayyid Muhammad al Maliki yang selalu beliau ceritakan segala tentangnya dalam kajian-kajian ilmu.

Setelah empat tahun berkhidmah dan belajar kepada Abuya As Sayyid Muhammad al Maliki, Ustadz Ihya’ pun kembali pulang ke Indonesia pada tahun 1980. Meskipun sudah berada di Indonesia,  tetapi hubungan antara murid dan guru ini terus berkesinambungan hingga saat ini, saat pesantren Abuya telah diasuh oleh As Sayyid Ahmad bin Muhammad al Maliki. Wujud dari hubungan ini salah satunya adalah hingga kini mayoritas santri Indonesia yang bermaksud untuk mondok di Rushaifah Makkah harus terlebih dulu berstatus sebagai santri Ma’had Nurul Haromain Ngroto Pujon Malang. Sebuah hubungan yang tiada akhir yang semoga diberkahi dan dilanggengkan oleh Allah. 

Merintis Dakwah

“Setinggi apapun ilmu yang engkau capai, tetapi jika telah memasuki dunia dakwah maka kamu harus memulainya lagi dari paling bawah”, ini adalah ungkapan yang sering disampaikan Abi, sapaan akrab KH Ihya’ Ulumiddin. Hal ini terkait dengan pengalaman pribadi ketika mulai merintis dakwah di rumah mertua di Keputran Kejambon Surabaya Jatim. Saat itu, Abi mengetik dan memfotocopykan sendiri tarjamah kitab fiqih paling dasar Sullam Safinah untuk kemudian diajarkan kepada para ibu di sekitar rumah. Jika dalam pepatah dikatakan sebaik-baik apapun bangkai ditutupi, toh baunya tercium juga. Sebaik apapun ditutupi, kejahatan pasti terbongkar. Sebaliknya juga demikian, kebaikan tidak perlu dipasarkan, diberitakan dan ditonjolkan karena manusia pasti tidak akan mampu menutup mata dari kebaikan. Becik ketitik olo ketoro, baik pasti terlihat, buruk pasti tersingkap. Allah azza wajalla dalam firmanNya juga memerintahkan; “Dan Katakanlah: "Beramallah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat amalmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.”QS At Taubah:105. “...tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud…”QS al fath:29. 

Demikianlah, meski hanya bermula dari dakwah di gang sempit di sebuah mushalla 3x4 dan selama dua tahun penuh hanya ada seorang santri bernama Ridhwan Yasin yang kini menjadi da’i penceramah dengan jam terbang sangat padat, nama Ustadz Ihya’ mulai dikenal oleh kalangan mahasiswa. Perlahan-lahan pada era 80-an itulah Ustadz Ihya’ kemudian menjadi salah seorang pioneer dakwah di kampus-kampus negeri di surabaya dan malang. Pada awal-awal kemunculan HTI, Beliau diangkat menjadi salah seorang guru pembina bersama Ustadz Abdurrahman al Baghdadi, perintis HTI.  Dakwah di kampus inilah cikal bakal yang kemudian melatarbelakangi berdirinya Yayasan al Haromain yang sekarang berpusat di Ketintang Barat Gang II. Para mahasiswa-mahasiswi, ikhwan akhowat yang dulu pernah mengaji kepada Abi dan sekarang telah tersebar di banyak kota dan bahkan negara sampai kini masih banyak pula yang terikat dan terhubung dengan Abi, dengan dakwah JDA (Jamaah Dakwah al Haromain). Keterikatan dan hubungan terasa semakin dekat ketika kajian-kajian Abi yang berpusat di pesantren Nurul Haromain dan Ketintang bisa diakses secara live lewat sebuah TV internet al Muttaqin. TV yang berpusat di Malaysia. Intensitas dakwah yang begitu padat dan hubungan yang akrab dengan kalangan kampus ini merupakan satu hal yang membedakan Abi Ihya’ dengan Ustadz dan para kiai lain ketika itu yang rata-rata menjadikan pesantren sebagai basis utama untuk merintis dakwah.


Selain melakukan pembinaan di kalangan mahasiswa, Abi Ihya’ juga masih aktif mengajar di beberapa pesantren di wilayah jawa timur dan sebagian komunitas masyarakat di madura. Hal demikian membuat Abi waktu itu banyak menjalani kehidupan dalam perjalanan. Setelah sekitar delapan tahun berpindah dari satu titik ke titik lain, Abi sempat mengadu kepada Sang Guru, Abuya Al Maliki; “Sampai kapan saya harus begini?” maka Abuya memberikan jawaban; “Itu semua adalah sesuatu yang memang harus dijalani, periode kamu mengenalkan dakwah (Dauratut Ta’riif) sehingga waktu sepuluh tahun lamanya” 

Dan memang setelah sepuluh tahun dijalani, Abuya kemudian memerintahkan agar Abi menjadi pengasuh pesantren yang barusan selesai dibangun di desa Ngroto Pujon Malang yang pembangunannya sudah dimulai sejak tahun 1986.

Sejak tahun 1991 Abi Ihya’ pun memulai dakwah dengan suasana baru. Selain masih terus membina mahasiswa dan para jamaah di Surabaya, beliau pun menjadi pengasuh Pesantren Pengembangan dan Dakwah Nurul Haromain sehingga harus membagi waktu pulang pergi antara Surabaya dan Malang. Hingga kini setiap Senin sampai Kamis beliau berada di Pujon dan Jum’at sampai Ahad berada di Surabaya. Kebiasaan yang barangkali dirasakan bagi banyak orang cukup melelahkan, apalagi kondisi jalan yang semakin hari semakin padat oleh kendaraan yang sama sekali tidak dikontrol dan dibatasi jumlah populasi untuk disesuaikan dengan kondisi dan kapasitas jalan. Ditambah lagi dengan bencana Lapindo yang sampai kini belum terselesaikan masalah transportasi yang diakibatkannya. Porong - Gempol masih sering macet. Akan tetapi seperti disabdakan Nabi Saw bahwa jika ingin mensyukuri nikmat dunia maka kita harus melihat kepada orang yang berada di bawah kita. Begitulah Abi yang seringkali mengatakan bahwa beliau cuma sekali seminggu PP Surabaya Malang, sementara para sopir atau banyak lagi orang yang setiap hari PP  Surabaya Malang, atau bahkan dalam sehari lebih dari satu kali. Ya, meski bukan aktivitas yang ringan tetapi seperti dalam hikmah, jika seringkali bersentuhan maka semakin tidak terasa. Betapa berat dan melelahkan sebuah pekerjaan, akan tetapi jika sudah biasa maka tidak terasa. 

Bersama Abuya As-Sayyid Muhammad Bin Alawy Al Maliky Al Hasany
ketika beliau berkunjung ke Malaysia

 Mencetak Kader

“Saya ingin mendirikan sebuah pesantren” Inilah salah satu jawaban ketika anda, para pembaca berkesempatan datang di pesantren Nurul Haromain Pujon dan bertanya kepada salah seorang santri putera di sana; “Apa cita-cita anda?” Jika latar belakang santri tersebut adalah putera seorang kiai maka itu adalah lumrah. Akan tetapi jika santri tersebut adalah anak petani maka ini sungguh harus diketahui dan diakui sebagai sesuatu yang luar biasa, hasil dari sebuah tarbiyah dakwah, bukan sekedar ta’lim. Perlu diketahui bahwa meski telah belajar di pondok pesantren sekian lama, sangat jarang seorang santri anak petani yang bercita-cita tinggi menjadi seorang kiai, mendirikan dan merintis sebuah pesantren. Akan tetapi Abi Ihya’ Ulumiddin telah membuktikan diri sebagai seorang pendidik yang berhasil merubah tradisi pesimis seorang santri. Betapapun kebanyakan adalah anak-anak petani desa, mayoritas santri-santri beliau di pesantren Nurul Haromain memiliki cita-cita tinggi dan mulia sebagai seorang juru dakwah dengan salah satu cara mendirikan pesantren untuk yatim dhuafa’, pesantren untuk umum atau minimal Lembaga Pendidikan Islam sebagai salah satu solusi pendidikan umat Islam masa kini atau majlis ta’lim. Sampai hari ini, para santri Nurul Haromain yang dianggap dan diperlakukan oleh Abi sebagai anak sendiri tetap menjadi ujung tombak perkembangan dakwah JDA/PERSYADHA yang telah memiliki cabang di Batam dan  hendak membuka cabang di Samarinda. Kita berharap tradisi ini tetap eksis dan terus berkembang di kemudian hari.

Apa rahasia ini semua? Sebagai seorang yang figur yang dikenal low profile dan suka merendah, Abi hanya bilang ini semua adalah berkah guru, berkah Abuya As Sayyid Muhammad bin Alawi al Maliki. Meski demikian perlu kiranya kita membuat analisa. Dalam sebuah teori pendidikan dikatakan cara berfikir dan berperilaku seseorang sangat dipengaruhi oleh ayah dan gurunya. Jika kebanyakan santri Nurul Haromain memiliki tekad menjadi seorang perintis, maka ini sangat sesuai dengan jiwa sang guru Abi Ihya’ Ulumiddin yang sejak awal menapakkan kaki di medan dakwah memiliki tekad berdiri di atas kaki sendiri. Sejak datang dari Makkah beliau bertekad untuk merintis dakwah yang di kemudian hari membesarkan namanya dengan berjuang sendiri dari nol. Tekad bulat ini terindikasi dari sikap beliau kala itu yang secara baik-baik menolak diambil menantu seorang kiai pemilik pesantren besar. Tekad dan sikap seperti inilah yang selalu ditanamkan oleh beliau kepada para santrinya. 

Imam Ibnul Jauzi, salah seorang ulama yang menjadi salah satu korban kebiadaban tentara Jengiz Khan ketika membumi hanguskan Baghdad, menulis dalam kitabnya Talbis Iblis, sebuah pengamatan bahwa sedikit sekali terkumpul dalam diri seseorang dua keahlian; ahli fiqih dan ahli hadits. Di sana beliau mencontohkan seorang ahli hadits bernama Ibnu Shaid yang ketika seorang wanita datang bertanya bagaimana hukumnya jika seekor ayam jatuh dalam sumur; apakah airnya mutanajjis atau masih tetap suci? Maka Ibnu Shaid kebingungan dan justru balik bertanya; “Mengapa sampai ada ayam jatuh ke dalam sumur?” “Karena sumurnya tidak tertutup” jawab si wanita. Akhirnya seorang ahli fiqih yang kebetulan sedang berada di situ memberikan jawaban: “Jika air berubah maka sumur itu mutanajjis dan jika tidak berarti masih tetap bisa dipakai untuk minum dan bersuci”. Sebaliknya jika seseorang hanya mempelajari fiqih tanpa mengetahui dari manakah sebuah hukum ditelurkan dan bagaimana proses Istinbathnya maka salah satu dampak dari hal ini adalah sikap fanatik, ogah menerima pendapat lain dan cenderung menyalahkan sikap dan pemahaman berbeda dari orang lain.

Karena khawatir disebut terlalu menyanjung jika mengatakan Abi Ihya’ seorang ahli fiqih dan ahli hadits, maka di sini kami hanya perlu menyampaikan bahwa Abi Ihya’ telah berusaha menyatukan dua disiplin ilmu dalam materi pelajaran di pesantren Nurul Haromain. Secara formal kitab fiqih memang tidak dikaji, akan tetapi dengan mengkaji Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abi Dawud dan Sunan Turmudzi, para santri belajar fiqih secara langsung dengan mengetahui sumber dan metode pengambilan hukum. Sebagai contoh misalnya; karena mengikuti kajian kitab hadits maka para santri mengenal dalil larangan melihat wanita lain dan dalil kehalalan penglihatan pertama dari hadits tentang bagaimana dalam musim haji wada’ Rasulullah Saw memutar kepala Fadhl bin Abbas ra yang terbengong melihat wajah seorang wanita yang datang bertanya kepada Rasulullah Saw. Juga sabda beliau kepada Ali; “Bagimu pandangan pertama...”. 
Tradisi keilmuan seperti ini membuat para santri lebih terbuka dan luas cakrawala berfikir sehingga ketika ditugaskan berdakwah hati merasa enjoy bergaul dengan semua orang islam, tanpa ada perasaan risih berhadapan dengan orang lain dengan aneka macam madzhab karakter, aliran madzhab dan latar belakang. 
Dengan mempelajari hadits secara tahqiq maka bukan sekedar mengetahui bagaimana para imam fiqih empat madzhab menelorkan hukum, akan tetapi juga secara langsung mengetahui prinsip dan sikap Rasulullah Saw dalam merespon realitas yang berkembang. Mempelajari hadits berarti menyebut dan mengingat Rasulullah Saw dan seperti dikatakan para ahli suluk bahwa menyebut dan mengingat Rasulullah Saw bisa menambah keimanan. Jadi kajian hadits secara langsung adalah upaya memperkuat Aqidah sebagai modal utama berdakwah dan berjuang di jalan Allah.

Untuk memperkuat Aqidah ini maka langkah Abi dalam tabiyah kepada para santri adalah mewajibkan shalat malam dan memperbanyak dzikir. Setiap malam jam 02: 30 para santri dibangunkan untuk bersama-sama shalat tahajjud dan bermunajat kepada Allah. Membangun tradisi shalat malam di wilayah pujon yang dingin diakui sendiri oleh Abi sebagai sesuatu yang saat itu cukup berat. Akan tetapi pertolongan Allah datang sesuai kesiapan seorang hamba. Tekad untuk mencetak kader dakwah menjadikan aktivitas yang pahit berubah menjadi manis dan kini pun buah manis itu bisa dilihat dan dirasakan. Meski Abi tidak sedang berada di pujon, para santri Nurul Haromain tetap aktif melakukan shalat malam.

Karya Ilmiah

Apa yang ada pada dirimu diketahui dari mulutmu. Keluasan ilmu seorang KH Ihya’ Ulumiddin bisa diketahui pula dari buku-buku yang banyak ditulisnya. Dimulai Jalaul Afham syarah Aqidatul Awam yang ditulis di Makkah sewaktu belajar kepada Abuya. Kitab berbahasa Arab ini entah sudah naik cetak berapa kali karena sudah banyak pesantren di Indonesia yang menjadikan kitab ini sebagai kurikulum wajibnya. Hebatnya, Abi sama sekali tidak melarang siapapun mencetak dan mengedarkan kitab ini. Pernah salah satu penerbit islam sangat besar datang meminta izin untuk mencetak. Tentu saja Abi mengizinkan, akan tetapi ketika dalam surat perjanjian ada poin penerbit lain tidak boleh mencetak maka Abi menolak dan membatalkan perjanjian itu. Sikap ikhlas yang barang kali jarang sekali ditemukan dalam sebuah karya ilmiah zaman ini yang rata-rata ditulis (Hak cetak dilindungi undang-undang).

Karya lain adalah buku praktis tentang shalat yang berjudul Kaifa Tushalli, tatacara shalat menurut Rasulullah Saw, sebelum seperti sekarang ini di mana banyak buku tata cara shalat menurut Rasulullah Saw dicetak. Kaifa Tushalli telah dicetak dan disebarluaskan oleh AMM Jogjakarta pada era tahun 90-an. Selain itu juga dicetak oleh Jamaah Dakwah al Haromain sendiri. Banyak orang mampu menulis buku besar, akan tetapi membuat suatu buku praktis tidak bisa dilakukan kecuali oleh yang betul-betul mengusai sebuah disiplin ilmu yang ditulisnya. Selain Kaifa Tushalli, Abi juga menulis buku praktis seperti halnya Zakat, Fiqih Puasa, Haji Tamattu’, Risalah Wudhu, Merawat Jenazah dll. Keahlian menulis dan membuat sebuah buku inipun berusaha beliau tularkan kepada para santrinya sehingga tidak sedikit santri beliau baik dari kalangan pesantren ataupun kampus yang bisa menulis dan membuat sebuah karya tulis.

Sedikit paparan di atas kiranya cukup menjadi penegasan bahwa Abi Ihya’ adalah seorang ahli yang bisa membuat orang lain ahli. Seorang pandai yang memandaikan orang lain. Inilah karakteristik salah seorang figur yang oleh Rasulullah Saw layak untuk dikepingini, selain figur seorang kaya raya yang memberikan kekayaannya sehingga bisa membuat orang lain kaya. 

Semoga Allah selalu menjaga dan memberikan kesehatan kepada beliau. Amin. 


sumber: 
copas dari http://kabarpujon.blogspot.com/2012/07/biografi-kh-m-ihya-ulumiddin.html

Senin, 15 April 2013

Di antara Etika Shuhbah

ini adalah materi taushiah bulan april 2013
oleh : abina KH. Muhammad Ihya' Ulumiddin


بسم الله الرحمن الرحيم
من آداب الصحبة (1)
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:
1)   الْمَرْءُ عَلَى دِيْنِ خَلِيْلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلْ . (رواه الحاكم فى المستدرك رقم 7319).
2)   الْمُؤْمِنُ الَّذِى يُخَالِطُ النَّاسَ وَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ خَيْرٌ مِنَ الْمُؤْمِنِ الَّذِى لاَ يُخَالِطُهُمْ وَلاَ يَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ وَفِى الْكُلِّ خَيْرٌ . (رواه ابن ماجة فى سننه رقم:4032).
3)   لاَ خَيْرَ فِيْمَنْ لاَ يَأْلَفُ وَلاَ يُؤْلَفُ . (رواه الحاكم فى المستدرك رقم 59).
وقد قيل:
وَحْدَةُ اْلإِنْسَانِ خَيْرٌ مِنْ # جَلِيْسِ السُّوْءِ عِِنْدَهُ
وَجَلِيْسُ الْخَيْرِ خَيْرٌ مِنْ  # جُلُوْسِ الْمَرْءِ وَحْدَهُ
تَتَمَيَّزُ صِلاَتُ الْمُسْلِمِ الْوَاعِى وَعَلاَقَتُهَا بِأَصْحَابِهِ عَنْ غَيْرِهَا فِى مَيْدَانِ الْحَيَاةِ, إِنَّهَا لَتُبْنَى عَلَى أَسَاسٍ مِنَ التَّآخِي فىِ اللهِ الَّذِى هُوَ أَسْمَى رِبَاطٍ يَرْبِطُ بَيْنَ إِنْسَانٍ وَإِنْسَانٍ رَجُلاً كَانَ أَوِ امْرَأَةً, إِنَّهُ رِبَاطُ اْلإِيْمَانِ بِاللهِ الَّذِى عَقَدَهُ اللهُ بَيْنَ الْمُؤْمِنِيْنَ كَافَّةً بِقَوْلِهِ: (إِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ إِخْوَةٌ) الحجرات:10.وَأُخُوَّةُ اْلإِيْمَانِ أَمْتَنُ رَوَابِطِ الْقُلُوْبِ وَأَوْثَقُ عُرَى النُّفُوْسِ وَأَعْلَى صِلاَتِ الْعُقُوْلِ وَاْلأَرْوَاحِ لِأَنَّهَا قَائِمَةٌ عَلَى الْحُبِّ فِى اللهِ الْمُجَرَّدِ عَنْ كُلِّ مَنْفَعَةٍ الْبَرِيِّ مِنْ كُلِّ غَرَضٍ النَّقِيِّ مِنْ كُلِّ شَائِبَةٍ وَهُوَ الْحُبُّ الطَّاهِرُ الَّذِى يَجِدُ فِيْهِ الْمُسْلِمُوْنَ وَالْمُسْلِمَاتُ حَلاَوَةَ اْلإِيْمَانِ كَمَا قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: [ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ اْلِإيْمَانِ: أَنْ يَكُوْنَ اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَخَبَّ إِلَيَّ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ ِللهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُوْدَ فِى الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَهُ اللهُ مِنْهُ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِى النَّارِ] متفق عليه.
وَلِتَوْطِيْدِ هَذِهِ الصُّحْبَةِ وَتَوْثِيْقِهَا آدَابٌ عَلَيْهِ أَنْ يُرَاعِيَهَا وَمِنْهَا:
1-             أَنْ يَصْحَبَ الْجِنْسَ وَمَنْ يَسْتَفِيْدُ مِنْهُ خَيْرًا . قَالَ اللهُ تَعَالَى: (وَلاَ تُؤْمِنُوْا إِلاَّ لِمَنْ تَبِعَ دِيْنَكُمْ) آل عمران:73,وَإِنْ كَانَ أَصْلُ هَذَا الْخِطَابِ ِلأَهْلِ الْكِتَابِ. وَقَدْ قِيْلَ: أَوْلَى النَّاسِ بِالصُّحْبَةِ مَنْ يُوَافِقُكَ فِى اعْتِقَادِكَ وَتَحْتَشِمُهُ فِى مُجَالَسَتِكَ .
2-             أَنْ يَصْحَبَ مَنْ يَثِقُ بِدِيْنِهِ وَأَمَانَتِهِ وَمَذْهَبِهِ وَوَرَعِهِ . رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ لَمَّا نَزَلَ قَوْلُهُ تَعَالَى (لاَ تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُوْنَ باِللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ يُوَادُّوْنَ مَنْ حَادَّ اللهَ وَرَسُوْلَهُ) المجادلة: 22:"أَللَّهُمَّ لاَ تَجْعَلْ لِفَاجِرٍ عِنْدِيْ يَدًا فَيُحِبُّهُ قَلْبِي" (رواه أبو القاسم اللالكائي فى اعتقاد أهل السنة رقم 275)
3-             أَنْ لاَ يَصْحَبَ مَنْ يُخَالِفُهُ فِى مَذْهَبِهِ وَإِنْ كَانَ قَرِيْبًا مِنْهُ. أَلاَ تَرَى نُوْحًا عَلَيْهِ السَّلاَمُ لَمَّا قَالَ: (إِنَّ ابْنِي مِنْ أَهْلِي) هود:45. كَيْفَ أُجِيْبَ؟: (إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ) هود:46.
4-             أَنْ يَصْحَبَ مَنْ يُهْدِي إِلَيْهِ عُيُوْبَهُ وَيَدُلُّهُ عَلَى مَا فِيْهِ صَلاَحُهُ وَجَمَالُهُ . قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (الْمُؤْمِنُ مِرْآةُ الْمُؤْمِنِ) رواه أبو داود رقم 4918 وقال عمر رضي الله عنه: رَحِمَ اللهُ امْرَأً أَهْدَى إِلَيَّ عُيُوْبِيْ .
5-             أَنْ يَصْحَبَ مَنْ لاَ تَكُوْنُ صُحْبَتُهُ إِلاَّ بِاتِّفَاقِ الْبَوَاطِنِ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى صِفَةِ الْمُنَافِقِيْنَ (تَحْسَبُهُمْ جَمِيْعًا وَقُلُوْبُهُمْ شَتَّى) الحشر:14.
6-             أَنْ يَقُوْمَ بِخِدْمَةِ اْلإِخْوَانِ وَاْلأَصْحَابِ وَرَفْعِ الْمُؤَنِ عَنْهُمْ وَاحْتِمَالِ أَذَاهُمْ وَتَرْكِ اْلإِنْكَارِ عَلَيْهِمْ إِلاَّ فِيْمَا يُخَالِفُ الشَّرْعَ كَمَا وَرَدَ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: (سَيِّدُ الْقَوْمِ خَادِمُهُمْ) رواه الديلمي فى الفردوس رقم 3473. وَقَدْ قِيْلَ: إِذَا صَحِبْتَ إِنْسَانًا فَانْظُرْ عَقْلَهُ أَكْثَرَ مِمَّا تَنْظُرُ دِيْنَهُ فَإِنَّ دِيْنَهُ لَهُ وَعَقْلُهُ لَهُ وَلَكَ وَلاَ تَصْحَبْ مَنْ كَانَ أَكْثَرُ هَمِّهِ الدُّنْيَا وَالْنَّفْسُ وَالْهَوَى .
7-             أَنْ يُوَاجِهَهُمْ بِالْبِشْرِ وَاْلإِنْبِسَاطِ وَالْمُوَافَقَةِ وَبَذْلِ الْمَعْرُوْفِ وَاْلإِحْسَانِ وَالْكَوْنِ مَعَهُمْ عَلَى حُكْمِ الْوَقْتِ . رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ كَانَ عِنْدَهُ أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا فَدَخَلَ عُثْمَانُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ فَغَطَّى جِسْمَهُ وَسَوَّى ثِيَابَهُ وَجَلَسَ فَسُئِلَ عَنْ ذَلِكَ فَقَالَ:"أَلاَ أَسْتَحِى مِمَّنْ تَسْتَحِى مِنْهُ الْمَلاَئِكَةُ" (رواه الطبراني فى المعجم الأوسط رقم 4918) فَحِشْمَةُ عُثْمَانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَإِنْ عَظُمَتْ  فَالْحَالَةُ الَّتِى بَيْنَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَبَيْنَهُمَا أَصْفَى. [مُلْحَقٌ/لَهَا بَقِيَّةٌ]
=والله يتولى الجميع برعايته=


بسم الله الرحمن الرحيم
Di Antara Etika Shuhbah
Rosululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda:
  1. “Seseorang (cenderung) menetapi agama (perilaku) temannya, maka hendaklah salah seorang dari kalian melihat siapakah orang yang (dengannya)ia berteman!” (HR Hakim dalam  al Mustadrok no 7319)
  2. “Seorang mukmin yang bergaul dengan manusia dan bersabar atas hal yang menyakitkan (dari) mereka, itu lebih baik daripada seorang mukmin yang tidak bergaul dengan mereka dan tidak (pula) bersabar atas hal yang menyakitkan (dari) mereka. Dan dalam keduanya (masing-masing) ada kebaikan” (HR Ibnu Majah dalam sunan nya no 4032)
  3. “Tidak ada kebaikan (sama sekali) pada diri seorang yang tidak lunak dan tidak pula bisa dilunakkan” (HR Hakim dalam al Mustadrok no 59)

Sungguh telah dikatakan:
Kesendirian lebih baik bagi seseorang daripada teman buruk di sisinya
Teman yang baik itu lebih baik daripada seseorang duduk seorang diri (menyendiri)

Dalam medan kehidupan, jalinan dan hubungan seorang muslim tebina dengan teman-temannya sangat istimewa dan berbeda dengan yang lain karena jalinan itu terbangun di atas pondasi persaudaraan fillaah yang merupakan ikatan paling mulia yang mengikat erat antara manusia satu dengan lainnya; laki-laki maupun perempuan. Itulah ikatan Iman billaah yang dijadikan oleh Alloh sebagai pengikat antara kaum beriman seluruhnya dengan firmanNya: “Sesungguhnya orang-orang beriman itu (hanyalah) bersaudara” al Hujurot:10.
Jadi persaudaraan karena iman adalah ikatan hati yang paling kokoh, ikatan jiwa yang paling kuat dan penghubung akal yang paling tinggi (mulia) karena berdiri di atas landasan al hubb fillaah yang sepi dari berbagai kepentingan, yang terbebas dari semua tujuan dan bersih dari segala hal yang mencampuri. Ia adalah kecintaan yang suci yang di dalamnya kaum muslimin muslimat akan mereguk manis (ekstase) keimanan sebagaimana disabdakan Rosululloh shollallohu alaihi wasallam: “Tiga hal yang apabila terdapat pada diri seseorang maka ia akan menemukan manis keimanan; 1) hendaklah Alloh dan RosulNya lebih ia cintai daripada (apapun) selain keduanya, 2) hendaklah ia mencintai seseorang, ia tidak mencintainya kecuali karena Alloh, 3) dan hendaklah ia tidak suka untuk kembali kepada kekafiran setelah Alloh menyelamatkannya darinya sebagaiman ia tidak suka (jika) dilemparkan ke neraka”(Muttafaq alaih)
Dan demi menguatkan serta meneguhkan pertemanan ini maka seorang muslim terbina wajib memperhatikan etika-etika yang di antaranya:
  1. Hendaklah ia hanya bersahabat dengan orang yang sejenis dan orang yang darinya ia bisa mengambil faedah kebaikan. Alloh ta’ala berfirman: “dan janganlah kalian percaya kecuali orang yang mengikuti agamamu “Ali Imron:73, meskipun asal dari firman ini ditujukan untuk ahli kitab. Sungguh telah dikatakan: “Orang yang paling layak untuk berteman (dengannya) adalah orang yang memiliki aqidah selaras denganmu dan kamu merasakan kharismanya (kamu merasa malu) saat ia sedang duduk bersamamu”
  2. Hendaklah bersahabat dengan orang yang bisa ia percayai akan agama, sifat amanat, madzhab dan waro’( kehati-hatian) nya. Diriwayatkan bahwa ketika turun firman Alloh; “Kamu tidak akan mendapati seorang yang beriman kepada Alloh dan hari akhir (tetapi juga) mengadakan jalinan kasih sayang dengan orang yang menentang Alloh dan RosulNya” al Mujadilah:22, maka Nabi shollallohu alaihi wasallam berdo’a: “Ya Alloh, jangan jadikan seorang pendosa memiliki jasa kepadaku sehingga hatiku menyayanginya!” (HR Abu Qosim al Lalka’i dalam I’tiqod Ahlis sunnah wal jamaah no 275)
  3. Hendaklah tidak bersahabat dengan orang yang berbeda madzhab dengannya meski masih sanak kerabat. Apakah anda tidak melihat kepada Nabi Nuh alaihissalam ketika ia berkata: “Sesungguhnya anakku adalah termasuk keluargaku” Hud: 45, bagaimana beliau mendapatkan jawaban: “Sesungguhnya ia bukanlah termasuk keluargamu”Hud: 46.
  4. Hendaklah ia bersahabat dengan orang yang bisa menghadiahkan kepadanya aib-aibnya serta (sekaligus) menunjukkannya kepada sesuatu yang di situ ada kebaikan dan keindahan baginya. Nabi shollallohu alaihi wasallam bersabda: “Seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin (lain)” (HR Abu Dawud no 4918). Umar ra mengatakan: “Semoga Alloh merahmati orang yang memberikan hadiah kepadaku berupa aib-aibku”.
  5. Hendaklah  bersahabat dengan orang yang tidak terjadi persahabatan dengannya kecuali karena ada kecocokan hati (berteman dengan orang yang sehati). Tentang sifat orang-orang munafiq, Alloh berfirman: “Kamu menyangka mereka bersatu padu (sementara) hati mereka (sebenarnya) berbeda-beda”al Hasyr: 14.
  6. Hendaklah mau berkhidmah kepada saudara dan teman, menghilangkan beban bea yang memberati hidup mereka, tabah akan hal yang menyakitkan dari mereka dan tidak mengingkari mereka kecuali pada hal yang bertentangan dengan syara’ sebagaimana diriwayatkan dari Rosululloh shollallohu alaihi wasallam, beliau bersabda: “Pemimpin kaum adalah pelayan mereka” (HR Dailami dalam al Musnad al  Firdaus no 3473). Sungguh telah dikatakan: “Jika anda bersahabat dengan seseorang maka perhatikanlah akalnya lebih banyak daripada perhatian anda kepada agamanya karena agamanya adalah miliknya sementara akalnya adalah miliknya juga milik anda! Dan jangan bersahabat dengan seorang yang  kebanyakan keinginan (kepentingan)nya adalah dunia, nafsu dan kesenangan!”
  7. Hendaknya menghadapi mereka dengan wajah sumringah, familiar, menuruti keinginan (mereka), memberikan budi dan kebaikan serta bersama mereka sesuai dengan kondisi (alaa hukmil waqti). Diriwayatkan dari Nabi shollallohu alaihi wasallam bahwa beliau sedang bersama Abu Bakar dan Umar rodhiyallohu anhumaa. Maka ketika Utsman radhiyallohu anhu datang maka beliau segera menutup tubuh, merapikan pakaian dan (lalu) duduk. Ketika ditanya tentang hal itu maka beliau bersabda: “Kenapa aku tidak malu kepada orang yang malaikat (saja) malu kepadanya!” (HR Thobaroni dalam al Mu’jam al Ausath no 4918). Jadi rasa malu Utsman betapapun begitu besar, akan tetapi kondisi yang terjadi antara Rosululloh shollallohu alaihi dan Abu Bakar ra serta Umar ra lebih bersifat lepas. (bersambung)
=والله يتولى الجميع برعايته=